Realita Sosial dalam Antologi 16 Penulis Muda

Peluncuran antologi karya 16 penulis muda di Ubud Writers and Readers Festival 2016. Foto Anggara Mahandra.

Peluncuran antologi karya 16 penulis muda di Ubud Writers and Readers Festival 2016. Foto Anggara Mahandra.

Dialog panjang Carok untuk memperebutkan hati seorang Toryah mengawali antologi. 

Carok adalah perkelahian dua kelompok atau perorangan yang biasa terjadi di Madura. Perkelahian yang akhirnya tak dimenangkan siapapun dalam prosa Arung Wardana Ellhafifie itu.

Penulis asal Madura ini dengan apik mengangkat realita sosial bersetting tahun 1974. Karya prosa ini lebih kental sebagai karya lokal dengan dibumbui istilah-istilah dalam bahasa Madura.

Dua penulis lain Boni Chandra dan Dahlia Rasyad juga menuliskan prosa yang mengangkat kehidupan sosial di Sumatera Barat dan Palembang. Mengangkat persoalan-persoalan sederhana perihal cinta dan relasi sosial dari keragaman lokal menjadi kekuatan karya dalam antologi ini.

Tiga karya yang mengangkat realita sosial di daerah tersebut merupakan bagian dari antologi yang berisi karya 16 penulis muda yang dihimpun oleh Ubud Writer and Reader Festival 2016. Sebenarnya tidak hanya mengangkat karya-karya lokal di atas, antologi ini juga menyajikan karya kontemporer dari penulis berbagai daerah.

Terlepas dari isu kedaerahan atau yang lumrah terjadi, karya dalam antologi tersebut tidak terlepas dari kesensitivitasan penulisnya pada kehidupan sosial di sekitarnya. Azri Zakkiyah dan Ni Putu Rastiti misalnya, mengangkat kehidupan sosial khas kota berkembang Surabaya dan Denpasar.

Antologi ini terdiri dari Prosa dan puisi. Ada 13 prosa dan enam puisi dari tiga orang penulis. Puisi-puisi yang ada dalam antologi juga tak kalah kritisnya.

Gemi Mohawk berani menuliskan puisinya berbeda. Penulis emerging asal Sumatra Selatan ini menyajikan kritik sosialnya tanpa bunga-bunga dalam puisi berjudul Ngehek, Patung Obama dan Jaka Baring.

Selain itu juga ada profil seorang Hasan Tiro, Murizal Hamzah menuliskan narasi pergerakan Tiro kala memimpin gerakan di Aceh.

Tat Twam Asi menjadi tema Ubud Writer And Readers Festival tahun 2016 sekaligus menjadi tema antologi ini. I am you, you are me, yang bisa diartikan juga menjadi ‘kita semua Satu.’ Realita sosial yang bersifat kedaerahan ataupun masalah sosial khas urban merupakan bagian dari kehidupan sehari-hari. Untuk menegaskan pola yang sama ini menjadi menarik disajikan dalam antologi sastra.

Karya dari 16 penulis emerging ini merupakan hasil kurasi dari tim yang terdiri dari Seno Gumira Ajidarma, Iswadi Pratama dan penulis kebanggan Bali, Sonia Piscayanti. Karya-karya dalam antologi ini merupakan karya terpilih dari 894 karya yang masuk ke panitia festival.

Tak perlu diragukan lagi, tim kurasi tentu memilih karya-karya yang luar biasa dari penulis-penulis muda dari berbagai daerah di Indonesia. Tetapi, pada akhirnya antologi terpilih bukan hanya yang terbaik, tetapi juga mengandung unsur lokal tapi mampu bersanding dengan dengan karya-karya dalam festival literasi Internasional. [b]

Authors

ALURA (Alumni Pencerah Nusantara| Pemerhati Kesehatan Masyarakat, Pencerah Nusantara Batch 3, Team Karawang| Belajar tentang isu-isu kesehatan| Menyukai Buku-buku

Related posts

One Comment;

*

Top