Pia Legong, Jajanan Laris Orang Jakarta

Oleh Luh De Suriyani

pia-balebengong

Baru lima belas menit di pabrik dan toko kecil Pia Legong, sebanyak tujuh pasang wisatawan dari Jakarta keluar dari toko dengan tangan kosong. Mereka kecewa, tidak berhasil membeli langsung bakpia renyah itu.

Beberapa di antaranya makin kecewa, karena penjualnya tak menerima pesanan lagi untuk keesokan hari. Meliana, yang akan kembali ke Jakarta usai liburan di Bali salah satunya. “Saya diminta semua teman di Jakarta bawain oleh-oleh Pia Legong. Wah, harus nunggu lagi,” keluhnya.

Setelah negoisasi dengan Venny Loka, pemilik toko, Meliana tak lagi gundah karena ia dijanjikan mendapat 15 box pia pesanannya dengan rasa keju dan cokelat itu dua hari lagi.

Meliana mengaku belum pernah mencoba pia ini sebelumnya. “Saya heran, teman-teman saya maksa untuk minta Pia Legong. Untung, saya akhirnya menemukan penjualnya,” katanya.

Demikian pula Adinny Paramita, seorang konsultan yang bekerja di Denpasar. Baru kali ini ia tahu soal pia yang berjargon traditional Balinesse pie ini. “Teman-teman saya di Bali saja tidak tahu soal pia ini. Malah, teman di Jakarta yang heboh,” herannya.

Adinny harus menunggu tiga hari untuk mendapat pesanannya. Venny, si penjual selalu bergeming jika ada pembeli yang memaksa. Ia hanya bilang, “Maaf, kami tidak menerima pesanan lagi pada hari itu.”

“Saya memang tidak membuat pia berlebihan. Jadi tidak semua pesanan bisa dipenuhi,” ungkap Venny, yang bersama suaminya merintis Pia Legong sejak 1996. Ia hanya menerima pesanan. Kalaupun bisa membeli langsung, itu adalah sisa produksi.

Seperti apa sih Pia Legong? Tujuh perempuan terlihat bekerja membuat adonan pia di bagian belakang toko. Terlihat jelas dari tempat tunggu pembeli. Dapurnya berukuran sekitar 25 meter persegi saja. Jadi terlihat penuh dengan tujuh pembuat pia.

Ada yang membuat bola-bola adonan pia, lalu mengisinya dengan isian keju atau coklat. Lainnya menata adonan di loyang-loyang lebar, memasukkan ke oven, dan mengatur pia jadi ke kotak-kotak merah marun.

Pia ini seukuran setengah dari bola tennis lapangan. Bentuknya bulat pipih, kulit pastry-nya kecoklatan. Hanya itu.

“Tidak ada yang menarik dari bentuk fisiknya, namun renyah dan isiannya banyak. Coklatnya meleleh. Itu bedanya dengan pia kebanyakan,” ujar Ni Nyoman Suriasih, salah seorang penyuka pia ini.

Harganya Rp 4000 per potong, kalau satu box Rp 40.000 isi 10 pia. Kemasan box dan tas kertasnya memang menawan, terlihat mahal dan eksklusif.

Adalah Hentje, 31 tahun, suami Venny yang menciptakan pia ini. Ia banting stir menjadi pedagang bakpia setelah bekerja menjadi pegawai sebuah perusahaan di Surabaya.

Selama setahun, ia mempromosikan pia ini hanya bersama sang istri di sejumlah obyek wisata di Bali. “Target awalnya wisatawan mancanegara. Kami membagikan tester gratis secara rutin. Namun, yang lebih pas ternyata lidah wisatawan domestik,” kata Venny.

Setiap ada pertujukkan traditional dance di Puri Ubud, mereka membawa sampel pia yang ketika itu dibuat dengan tiga isian, kajang ijo, cokelat dan keju. Sekarang hanya dibuat isian keju dan cokelat karena yang kacang ijo tak banyak yang suka.

Baru satu setengah tahun ini, Pia Legong mendapatkan pasarnya. Pemasaran mulut ke mulut dan pembatasan unit produk adalah strategi yang tepat.

Venny memperlihatkan sebuah kalender meja, dimana Mei dan Juni telah berisi catatan pesanan. “Sebelum tiba di Bali, wisatawan Jakarta sudah pesan,” sahutnya.

Mereka menyewa sebuah ruko di Jalan Bypass Nguah Rai, sekitar 3 kilometer dari Bandara Ngurah Rai. Counter sekaligus pabriknya. Tak ada etalase bakpia di sana, hanya seorang kasir dan tanda tangan sejumlah artis yang dipigura. Ada komedian Aming dan Tike, Cut Keke, Rima Melati, dan lainnya.

Venny sangat tertutup soal informasi unit penjualan dan menolak dipotret proses pembuatan produknya. Alasannya agar pia legongnya terdengar misterius. “Saya terpaksa beriklan sekali. Itu saja cukup,” katanya.

Ia mengaku hanya akan membuat satu counter penjualan. “Kami hanya ingin membuat pelanggan balik lagi kesini, ke satu tempat ini,” ujar Venny.

Authors

Lahir dan besar di Denpasar. Ibu dua anak lelaki, tinggal di pinggiran Denpasar Utara. Anak dagang soto karangasem ini alumni Pers Mahasiswa Akademika dan Fakultas Ekonomi Universitas Udayana. Pernah jadi pemimpin redaksi media advokasi HIV/AIDS dan narkoba Kulkul. Sambil mengasuh Bani dan Satori, juga menulis lepas untuk sejumlah media seperti Bali Buzz dan portal Mongabay.

Related posts

Komentar via Facebook
Top