Butuh Ojek, Panggil Saja Motor Taxi

Oleh Anton Muhajir

Biasanya ada dua pilihan saya untuk ke bandara Ngurah Rai Bali. Kalau tidak diantar teman atau istri, saya pilih naik taksi. Ini tergantung pihak yang mengundang acara. Kalau pengundang akan mengganti biaya taksi berapa pun besaranya, maka saya akan naik taksi. Tapi kalau pengundang hanya mengganti uang transport, maka saya akan pilih diantar teman atau istri.

Oya, mohon maklum. Sebagian besar perjalanan saya yang menggunakan pesawat adalah karena pekerjaan atau kegiatan yang dibayar orang lain. Jadi, faktor biaya ke bandara itu jadi penting. Kalau biaya naik taksi diganti, berapa pun besarnya, tentu tidak masalah. Tapi kalau hanya diganti sebagai uang transport lokal yang sudah pasti besarnya, maka biaya ini harus dihitung dengan hati-hati. Saya kan tidak mau tekor. 🙂

Diantar teman atau istri memang enak. Tidak keluar biaya. Kadang lebih cepat pula dibanding naik taksi. Masalahnya, ini juga tergantung si pengantar. Ada tidak. Kalau toh ada, bisa tidak. Belum lagi kadang-kadang merasa tidak enak karena merepotkan orang lain.

Tapi, aha, sekarang sudah ada jawaban murah meriah kalau mau ke bandara. Panggil saja Motor Taxi di 0361 – 7967575!

Layanan ini berupa antar jemput dengan alat transportasi sepeda motor, bukan taksi. Sama saja dengan ojek. Tapi lebih serius. Misalnya ya pakai fasilitas telepon itu tadi. Sepertinya lebih profesional.

Sebenarnya saya sudah melihat Motor Taxi ini sekitar dua bulan lalu. Waktu itu ketika saya sedang di padatnya jalanan Denpasar. Dengan plastik bening penghalang angin di depan berisi tulisan Motor Taxi, sepeda motor ini memang langsung mencuri perhatian. Makanya saya langsung mengingatnya. Tapi belum sempat pakai waktu itu.

Setelah itu saya juga sempat baca di blognya Saylow, teman di Bali Blogger Community (BBC), tentang iklan Motor Taxi ini. Jadi, motor taxi ini makin mudah diingat.

Pekan lalu, saya akhirnya mencoba ojek gaya baru di Bali ini. Sekitar satu jam sebelum ke bandara, saya telepon 7967575 untuk pesan satu motor ke bandara.

“Kalau ke bandara berapa harganya, Pak?” tanya saya ke petugas yang melayani lewat telepon.

“Sepuluh ribu, Pak. Itu harga sama ke semua tempat jauh maupun dekat,” jawabnya.

Ah, ternyata benar. Harganya memang murah meriah.

Pukul 2 siang, motor taxi itu pun nongol di depan rumah saya di kawasan Denpasar Utara. Hanya telat tidak sampai lima menit. Tidak apa-apa. Operator, istilah untuk pengendara sepeda motor itu yang dalam bahasa lain bisa disebut tukang ojek, mengaku kalau dia memang harus mencari-cari dulu alamat rumah saya. Ya, bisa dimaklumi lah.

Motor Taxi memang layanan baru di Bali. Menurut Ketut Eli, 24 tahun, operator yang menjemput saya, layanan ini baru berumur tiga bulan lalu. Eli sendiri malah baru satu minggu bergabung. Selain Eli, ada sekitar 30 operator lain milik Motor Taxi yang berkantor di daerah Padanggalak Sanur, Denpasar Timur ini.

Sehari-hari Eli tinggal Mambal, Badung, sekitar 25 km utara Denpasar. Dia tidak harus ngantor tiap hari. Kalau ada telepon dari kantor, dia baru berjalan mencari penumpang layanan ini. “Operator tidak boleh melayani penumpang di jalan. Semua harus diatur sama kantor,” kata lulusan Sekolah Teknik Mesin di kawasan jalan Seroja Denpasar ini.

Jarak paling jauh yang harus ditempuh Eli adalah Nusa Dua. Selebihnya hanya di dalam kota Denpasar, yang relatif kecil itu.

Karena itu, Eli mengaku kerjanya santai. Kalau tidak ada permintaan dari kantor, dia tidak perlu ngetem atau menunggu di satu tempat layaknya sopir taksi. Cukup bersantai di rumah. Toh, meski demikian tiap hari ada saja penumpang yang harus diantarnya. “Rata-rata tiga hingga empat penumpang,” ujarnya.

Dengan kerja yang menurutnya relatif santai ini, Eli dibayar Rp 750 ribu per bulan. “Lumayan untuk bujangan seperti saya,” kata pemuda yang selalu berbicara dalam bahasa Bali halus pada saya ini.

Menurut Eli, tidak ada syarat khusus untuk jadi operator ini. Sepeda motor Yamaha Jupiter yang dia pakai pun milik kantor dan bisa dibawa pulang tiap hari. Meski demikian dia harus bersaing dengan ratusan pelamar lain untuk bisa mendapat pekerjaan ini.

Siang itu, saya pun ke bandara Ngurah Rai diantar Eli. Motor Jupiter yang kami naiki pun melaju dengan santai ke bandara. Eli di depan dengan rompi warna hijau terang, seperti polisi, dan jaket lengan panjang. Kami lewat jalan Gatot Subroto Timur – jalan By Pass Ngurah Rai agar lebih cepat.

Salah satu niat saya naik motor taxi memang agar cepat. Maka, saya heran ketika sepeda motor itu berjalan pelan. Saya lihat jarum speedometer memang tidak pernah naik lebih dari 60 km per jam. “Kalau di By Pass memang tidak boleh lebih dari 60 km per jam,” kata Eli. Oalah, ternyata begitu. “Malah kalau di dalam kota, tidak boleh lebih dari 45 km per jam,” lanjutnya.

“Tapi itu tergantung penumpangnya juga. Kalau penumpang memang mau cepat ya bisa saja ngebut,” tambahnya.

“Ya sudah. Ngebut saja deh,” kata saya.

Pelan-pelan jarum speedomter itu pun naik: 60, 70, sampai 80 km per jam. Motor taxi ini membuat perjalanan saya memang lebih cepat. Dan murah tentu saja. Hanya Rp 10 ribu. Bandingkan dengan taksi yang sampai Rp 80 ribu..

Authors

Jurnalis lepas, blogger, editor, dan nyambi jadi tukang kompor. Mengelola Sloka Institute sambil sesekali menulis lepas di media arus utama ataupun media komunitas. Kuliner, jalan-jalan, pemberdayaan warga, HIV dan AIDS, pertanian berkelanjutan, dan kelompok terpinggirkan adalah isu-isu yang membuatnya bersemangat 45 untuk menulis.

Komentar via Facebook
Top