Kisah di Balik Isu Bubarnya Lolot Band

Oleh Oka Negara

Terhitung sejak dua mingguan ini beberapa teman memberitakan dan membicarakan kabar Lolot Band bubar, atau paling tidak dengan istilah sejenisnya, non aktif atau vakum. Malah saya pakai istilah hibernasi kemarin. Kalau sekedar hibernasi atau tidur panjang untuk mencari tenaga dan kekuatan baru tentu saja tidak masalah. Aerosmith, Rolling Stone, Queen, hingga ke God Bless pun mengalaminya. Tetapi kalau benar-benar bubar tentu saja sayang sekali, dan saya sendiri pribadi tidak rela nih.

Sebab, Lolot sudah menjadi fenomena dan ikon musik rock berbahasa Bali yang benar-benar bisa menggugah remaja di Bali jadi bergeliat dengan luar biasa untuk melirik dan larut dalam musik Bali, atau paling tidak musik berbahasa Bali dalam balutan sesuatu yang baru: Bali Rock Alternatif.

Setelah kehadiran Lolot Band di tahun 2003, langsung diikuti dengan band-band sejenis dengan variasi genre musik di sana-sini. Ada Bintang, XXX, nanoe Biroe, 4WD, di Ubud yang masih bertahan. Hingga sebagian lainnya yang akhirnya hanya sayup-sayup terdengar seperti Hano-man, Dokar, Raja (yang ini tidak pakai “d”), Sam-4, Badeng, Jagad, Dinky, Nirwana dan banyak lagi yang sudah terlupakan.

Luar biasa memang fenomena ini. Saya sendiri sampai membuat sebuah festival band khusus band berbahasa Bali dan membuat kaset kompilasi band finalisnya. Konsernya rugi gara-gara hujan, tapi kasetnya laku juga.

Kembali ke Lolot Band. Supaya jelas, karena saya cukup dekat dengan Bagus Mantra, produser yang menangani Lolot Band, saya coba kontak beliau lewat SMS. Tepatnya hari Jumat lalu, tanggal 18 juli 2008. Saya kontak pukul 19.21. Masih ada di HP saya rekaman SMS yang saya kirim.

Saya langsung tanya Bagus Mantra apa benar Lolot Band bubar seperti yang diisukan selama ini.

Ini jawabannya langsung lewat SMS yang direply pukul 19.23. “Lolot Band non aktif dulu, md bawa semangatnya hilang total…..anyway temen2 masih semangat so mereka buat band side project indonesia, namanya Rokavatar.”

Ada perasaan sedih dan gembira juga membaca SMS ini. Sedihnya karena Lolot Band memang bakalan non aktif sampai waktu yang belum ditentukan. Gembiranya ya karena tidak bubar. Semoga selanjutnya bisa kumpul lagi, rekaman lagi. Booming lagi.

Karena di pikiran saya , saat ini musik Bali sedang sangat lesu. Hanya yang nekat yang berani rekaman. Kalaupun berani rekaman itupun income yang diharapkan lebih banyak mendatangkan keuntungan bukan dari benefit penjualan kaset, tapi dari konser-konser atau penampilan di panggung.

Di samping memang pembelian kaset lesu, yang membeli pun ada dari dua kalangan. Anggap saja kalangan menengah ke bawah kalaupun mau beli kaset, biasanya beli bajakan di lapak-lapak penjual kaset di pasar atau tempat lainnya. Sebaliknya yang punya duit lebih, yang lebih intelektual, ternyata banyak juga yang memiliki lagu-lagu ini setelah berburu mp3 nya, yang jelas-jelas juga keuntungan tidak masuk ke artisnya.

Inilah fenomenanya saat ini. Bisa jadi ini menjadi pertimbangan Bagus Mantra dengan grup bisnis Preginanya. Selama ini selama yang saya kenal Pregina akan bermain di kualitas, yang tentu saja biaya yang dikeluarkan akan besar juga, kalau melihat keuntungannya menurun tentu saja proyek Lolot Band perlu dipertimbangkan matang-matang.

Bila dilihat dari catatan saya sejak kemunculan album Lolot Band yang pertama (waktu itu masih menggunakan nama Lolot n Band, karena masih menjadikan Made Bawa (Lolot) sebagai ikon sentral) di album Gumine Mangkin bisa laku 75ribu kopi. Suatu angka yang fantastis dan tentu saja membuat untung besar.

Siapapun pasti tahu lagu “Tresna Memaksa”. Popularitas lagu ini bisa disejajarkan dengan popularitas lagu “Kidung Kasmaran”nya almarhum Okid Kres. Bedanya, di Tresna Memaksa, nama Lolot n band langsung melambung kencang, tapi kalau Kidung Kasmaran orang malah sering lupa siapa penyanyinya. Bukan lupa, malah tidak tahu.

Satu lagi yang membuat penjualan album pertama kencang adalah lagu Artha Utama. Ini lagu favorit saya dari Lolot Band. malah saya bikin profil Lolot n band di segmen Infotainment Kisara 2 menggunakan lagu ini.

Lanjut. Album kedua, Bali Rock Alternatif juga meledak tapi penjualannya masih dibawah Gumine Mangkin. sekitar 65ribu kopi. Album ketiga, Meong Garong, dengan kualitas musik yang sangat apik malah turun ke 45ribu kopi. Album The Best of Lolot turun drastis ke 15ribu, dan sekitar angka yang sama juga untuk album yang terakhir, Saling Caplok. Tidak ada lagi euforia penjualan di atas 50 ribu. Bahkan 30ribu juga tidak tercapai.

Tapi salutnya, panggung pertunjukan masih rame bisa dijajal dan penonton selalu merindukan Lolot Band. Jadi kalau terlihat sekarang semua kehilangan semangat, sepertinya masih masuk akal. Mudah-mudahan Lolot bisa bangkit. Mengingat Lanang, Deny dan Doni masih semangat dan mau maju terus. Hanya saja kali ini dengan berbahasa Indonesia, masih setia dengan musik rock. Bersama band Rokavatar. kemungkinan diambil dari kata Rock Avatar.

Siapa pengganti Made Bawa atau Lolot sebagai vokalisnya Rokavatar, ini jawaban SMS dari Bagus Mantra. “…kalau vox barunya, Bobby, eks vokalis double T dulu”.

Rupanya masih belum jauh juga. Karena di samping menangani Lolot Band, Bagus Mantra juga menangani Joni Agung & Double T (reggae berbahasa Bali). Jadi Bobby diambil dari pertemanan di Double T ini. Bagus Mantra juga sempat menangani Mang Gita dan band Purusha, yang kemudian bermetamorfosis menjadi The Patriot. Nyanyian Dharma 2 juga buah tangan dingin Bagus Mantra. Bila Joni Agung & Double T masih cukup kencang melaju di kancah musik Bali. Purusha telah almarhum. The Patriot juga masih belum memuaskan.

Memang tidak mudah untuk gambling dan jualan band berkualitas saat ini di Bali. Di beberapa SMS terakhir saya menanyakan juga perkembangan stasiun BMC (Bali Music Channel), yang belum juga muncul, yang Bagus Mantra sebagai direkturnya dan teman musisi saya, Jun (Bintang Band) yang nanti sebagai produser dan presenter acara-acara yang memang dikhususkan nanti buat program musik. Ini sebagai upaya untuk memajukan musik dan musisi lokal Bali tadinya.

“..BMC segera mengudara dok. September atau Oktober kita akan mulai.”

Ini yang kabar baik buat saya. Juga buat kita. Terlebih Bagus Mantra sejak lama bilang bahwa di BMC klip yang ditayangkan tidak perlu membayar. Mungkin perlu sekali diundang untuk rembug tanggal 27 nanti ya. Semoga bisa lancar dan sukses. mari kita dukung bersama.

Bonus Posting
Serasa kaset saja. Kalau di kaset ada bonus tracks, kalau di blog ada bonus posting. Kehadiran Lolot Band yang fenomena memang sering menjadi bahan pembicaraan. Sejak tahun 2003 di awal kemunculannya penuh dengan pertaruhan apakah bakal sukses mengingat lagu Bali masih dijejali oleh musik pop yang bernuansa keroncong dan mandarin, dan juga sudah maraknya bajakan, malah diduga si produsernya sendiri yang juga membuat versi bajakannya, jadi kalau asli dibeli ya untung, yang bajakan dibeli ya syukur.

Fenomena Lolot di awal ini juga membawa Kisara membuat acara Infotainment Kisara 2; Sex,Drugs n Rock n Roll; Is It Your Style?. Ada talkshow, testimoni pecandu narkoba, penayangan fim indie buatan Kisara, fashion, operet dan tentu saja Lolot Band (di satu event). Dan sudah bisa ditebak. Rame. Penuh. Lancar. Sukses. Yang akhirnya membawa Kisara bekerjasama lagi dengan Lolot Band di festival musik dan eksebisi remaja; Mafia Kisara 2.

Hasilnya adalah juga muncul kaset kompilasi band berkualitas, band-band bagus, ada Cematu, Biongo, Tirtha, Vegasus, ToomBand dan Ladies Room nya Kisara. Juga Lolot Band khusus membuatkan lagu antinarkoba untuk Kisara yang direkam di Album Meong Garong yang berjudul “Narkoba Merajalela” for Mafia Kisara. Beberapa media Kisara sempat didesain juga oleh Lolot lewat label Lovevilive nya.

Dan sebuah proyek film edukasi 3 Ruang juga didukung oleh Lolot Band dan Pregina dalam pengadaan soundtracksnya bersama Komunitas Musisi Bali, sekalian juga saat itu memberi aksi nyata dukungan sumbangan buat keluarga korban bom Bali II.

Ada lagi. Kali ini beberapa pertanyaan tentang Lolot banyak muncul. Dan sebagian masih belum terjawab. Namanya juga menjadi selebritis tentu saja akhirnya banyak mendapatkan sorotan samapi hal yang kecil sekalipun. Beberapa pertanyaan ini diantaranya. Yang punya jawaban silakan urun tanggapan.

1. Lolot ini nama orang apa nama band?
Awalnya ya memang nama orang. Lolot ini nick namenya Made Bawa. Si vokalis. Makanya di album awal-awal masih menggunakan nama Lolot n band. Tetapi sudah berformat baku, ada Lolot, Deny. Doni dan Lanang. Tidak pernah diganti kecuali force majeur atau additional. Selanjutnya kalau tidak salah sejak album Meong garong dipakailah nama resmi Lolot Band. jadi beda dengan nanoe biroe yang tim dan bandnya bisa berganti-ganti.

2. Lolot itu apa ya artinya?
Itu cuma istilah. Reverse slank. Coba dibalik, jadi tolol. Iya karena Made Bawa sejak kecil merasa dirinya seperti itu. Sebenarnya sih bukan cuma itu kali ya. Karena De Bawa ini kebetulan tetangga saya di Panjer, Denpasar. Dia bandel dan suka minum alkohol. Tapi itu dulu. Dulu suka mabuk dan truble maker. Sekarang….masih sedikit. Berkurangnya banyakkk sekali.

3. Apa Lolot pernah pake narkoba?
Ini sudah sering dibahas. Kalau mau baca testimoninya, coba baca buku “Buka Mata Buat Narkoba”. Kebetulan yang nyusun itu ada Lode, dibantu mas Anton juga. Saya juga ikut dikit bantuin.

4. Lolot Dulu di Superman Is dead?
Yup. Pernah.Tapi hanya sebentar. Dia bosan dan lebih senang berunderground ria dengan band hardcorenya, Knucklehead Nation (kalau nggak salah).

5. Kenapa Lolot Tidak Nyanyi Bahasa Indonesia?
Haha.Bahasa Indonesianya payah. Malah waktu Lolot Band dapat penghargaan SCTV Music Award sebagai band indie terbaik, di salah satu majalah disebutkan kalau vokalis Lolot band tidak bisa berbahasa Indonesia. Tetapi ya tidak separah itulah….Terus kalau menyanyi underground memakai bahasa Inggris, dengan suara menggeramnya (grohwling)nya kalau bule mendengarkan pasti juga dijamin tidak mengerti. Namanya juga blackmetal, asal sudah menggeram dan mencicit sudah oke…

Baiklah. Itu tambahan sebagai bonus postingnya. Mari kita doakan Lolot Band tidak lama-lama non aktifnya. [b]

Authors

Oka Negara. Dokter tinggal di Jl Waturenggong, Panjer, Denpasar Selatan. Meski sudah tidak remaja, masih aktif di Kita Sayang Remaja (Kisara), kelompok relawan remaja Bali di bidang kesehatan reproduksi dan narkoba. Juga aktif di berbagai kegiatan terkait dua masalah tersebut, termasuk Bali Community Cares (BCC), kelompok peduli anak-anak korban HIV/AIDS di Bali.

Komentar via Facebook
Top