ASITA Akan Tertibkan Online Tour

Oleh Luh De Suriyani

Association of the Indonesia Tours and Travel Agencies (Asita) Bali tengah membuat daftar penyedia jasa tour and travel online yang tidak memiliki izin sebagai Biro Perjalanan Wisata (BPW).

Ketua Asita Bali Al Purwa menggolongkan usaha travel online itu illegal dan akan dilaporkan ke kepolisian untuk ditindak. “Kami sedang menyusun daftar usaha travel online yang tanpa ijin BPW untuk dilaporkan ke Dinas Pariwisata,” kata Al Purwa.

Saat ini, jasa penyedia layanan wisata online sangat marak. Ada yang berbentuk perusahaan maupun dijalankan individu.

Menurut Al Purwa, usaha penertiban online travel tanpa ijin BPW ini dilakukan karena meresahkan sejumlah pengusaha BPW resmi. “Mereka kan bekerja mendapat komisi dari penjualan tur, hotel, transport, dan sebagainya tapi tidak membayar pajak. Ini kan illegal,” tukasnya.

Ia sendiri tak merinci berapa online travel yang masuk kategori illegal ini. “Asita sedang melakukan pengecekan. Ini kan cukup mudah dilakukan,” ujar Purwa yang memiliki usaha KCBJ Tour ini.

Sementara untuk mendapat ijin BPW, usaha travel harus berstatus PT, mempunyai Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP), punya kantor dan tenaga kerja.

Ia juga menghimbau travel agent yang berijin masuk anggota Asita walau tak mewajibkan. “Lebih dari 100 travel di Bali belum ikut Asita. Anggota Asita sekarang sekitar 340 perusahaan,” jelasnya.

Sanat Kumara, salah seorang pengusaha online travel yang telah berizin BPW ini mengaku mendukung rencana penertiban, namun mendorong travel agent untuk bisa berkompetisi dengan  online travel ilegal sekalipun.

“Internet is free world. Siapa yang terbaik dalam pelayanan dan harga akan memenangkan kompetisi bisnis ini,” ujarnya.

Usaha e-travel yang dirintisnya sejak 1997, baliwww.com diakuinya makin berkembang  dan banyak yang meniru. Walau demikian ia tak resah dengan makin banyaknya e-travel lain yang dikelola perusahaan maupun individu. “Banyak yang baru, tapi banyak juga yang mati suri,” tambah Sanat.

Tak hanya travel agent, kini makin banyak yang menawarkan jasa pariwisata lain secara online. Misalnya supir, kendaraan, guide, dan lainnya.  “Inilah ciri internet, tidak memandang perusahaan kaya miskin, sama saja, yang penting mereka tahu teknologinya, bisa buat content menarik, mampunyai clients yang sudah tahu dan terpercaya,” kata Sanat yang mengaku pernah menghasilkan omzet milyaran rupiah lewat e-travel sebelum peristiwa bom Bali Oktober 2002.

Hampir semua travel agent kini menggunakan jaringan online, hanya menurut Sanat, tak banyak yang lihai memanfaatkan information technology untuk memaksimalkan usaha travel agentnya.

Malah, sejumlah travel agent online kini mendominasi seperti Baliparadise.com atau Balidiscovery.com.

Tak hanya travel agent berbasis perusahaan, yang di-organize perseorangan lewat website atau blog juga makin ramai. Personal travel online ini malah mampu memberikan pilihan tour alternatif, selain harga yang lebih murah.

Misalnya yang digagas Kadek Didi Suprapta bersama teman-temannya. “Tour yang kami tawarkan sangat flexibel dan personal. Ini tergantung permintaan klien, sangat berbeda dengan travel agent besar,” katanya.

Karena dengan cara intim seperti ini, menurut Didi, usaha online travel laris dan makin diminati. Ia sendiri heran dengan rencana penertiban Asita.

“Setiap warga kan berhak berusaha, apalagi untuk kami yang bermodal kecil,” ujarnya. Usaha online travel-nya telah berijin CV dengan kategori tourist service.

Al Purwa juga mengakui, salah satu kelemahan travel agent di Bali adalah penguasaan IT dan keterampilan sumber daya manusia yang rendah. “Bahkan sekitar 30 persen dari total travel agent resmi tidak familiar dengan email atau internet,” katanya.

Inilah, menurut Purwa yang menghambat service pada klien yang mengaharuskan konfirmasi secepatnya. Selain itu, persoalan pengurusan ijin BPW juga masih rancu. “Harusnya ijin BPW dikeluarkan satu instansi, yakni Dinas Pariwisata. Sekarang Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) juga mengeluarkan ijin. Ini kan rancu,” sesalnya.

Selain masalah online travel ilegal, Al Purwa mengakui masih banyak tantangan di industri tourist service ini.

Misalnya maraknya brosur atau iklan penawaran wisata tidak terakreditasi di bandara Ngurah Rai. “Kami masih sulit berkoordinasi dengan otoritas bandara untuk mengontrol brosur atau iklan wisata yang bisa jadi menipu wisatawan itu,” katanya. [b]

Versi bahasa Inggris artikel ini dipublikasikan di http://www.thejakartapost.com/news/2008/12/10/union-fight-unlicensed-travel-agencies.html

Authors

Lahir dan besar di Denpasar. Ibu dua anak lelaki, tinggal di pinggiran Denpasar Utara. Anak dagang soto karangasem ini alumni Pers Mahasiswa Akademika dan Fakultas Ekonomi Universitas Udayana. Pernah jadi pemimpin redaksi media advokasi HIV/AIDS dan narkoba Kulkul. Sambil mengasuh Bani dan Satori, juga menulis lepas untuk sejumlah media seperti Bali Buzz dan portal Mongabay.

Related posts

Komentar via Facebook
Top