Imbauan Ngasal si Raja Abal-abal

Tidak ada larangan terhadap umat Hindu Bali untuk memakan sapi. Foto ilustrasi Anton Muhajir.

Komentar provokatif pun bermunculan.

Semua berawal dari berita di Tribun News pada Rabu kemarin. Judulnya, Raja Bali: Umat Muslim Diimbau Jangan Sembelih Sapi. Saya menemukan berita itu di kolom pencarian kata kunci Bali di Twitter lengkap dengan komentar sinis, “Apa tidak sekalian orang Islam disuruh makan babi.”

Begitu melihat judul tersebut, saya langsung tertarik untuk membuka karena memang ada beberapa kejanggalan. Poin berita tersebut kurang lebih begini: Dr Shri I Gusti Ngurah Arya Wedakarna MWS III, President The Hindu Center Of Indonesia yang juga Raja Majapahit Bali mengimbau agar umat Islam di Bali tidak menyembelih sapi sebagai hewan kurban.

Berikut pernyataan Arya Wedakarna di salah satu paragraf berita tersebut:

”Dalam rangka Idul Adha 2012 nanti, saya menghimbau semeton Islam agar tidak menyembelih sapi sebagai kurban. Mungkin bisa diganti dengan dengan hewan lainnya. Ini penting, karena di Bali, Sapi adalah hewan yang disucikan, dan juga dipercaya sebagai kendaraan Dewa Siwa. Dan mayoritas orang Bali adalah penganut Siwaisme,” katanya.

Sejak awal baca berita tersebut, saya sudah menduga isu ini akan ramai diperbincangkan oleh orang-orang Islam di luar Bali. Seolah-olah imbauan tersebut memang datang dari Raja Bali dan orang Bali pada umumnya yang tidak suka karena orang Islam menyembelih sapi sebagai hewan kurban.

Hari ini, linimasa masih ramai soal imbauan tersebut. Dari salah satu kicauan, saya kemudian buka berita di Ar-Rahmah. Salah satu kalimat di paragraf pembuka salah satu berita saja sudah bikin kebat kebit karena provokatif, “Kali ini, Umat Islam diminta pula untuk tidak menyembelih Sapi pada perayaan Idul Adha.”

Begitulah. Topik ini jadi ruwet dan berkepanjangan. Seolah-olah raja Bali itu memang ada. Seolah-olah imbauan tersebut memang imbauan resmi dari raja di Bali. Seolah-olah orang Islam di Bali mengalami diskriminasi selama ini.

Tapi, benarkah? Biar tidak keburu panas untuk polemik tidak jelas, ada beberapa hal yang harus diperjelas.

Pertama, soal raja Bali. Ini jelas omong kosong. Tidak ada itu raja Bali. Arya Wedakarna yang dijadikan narasumber dalam berita tersebut bukanlah raja Bali. Bahkan, Raja Bali itu sendiri bukan sesuatu yang ada.

Kalau toh ada raja di Bali, adanya di tingkat puri, misalnya Puri Ubud, Puri Karangasem, Puri Tabanan, dan seterusnya. Setahu saya, para raja ini pun keberadaannya hanya secara adat, bukan sosial. Para raja “ada” hanya ketika ada upacara adat. Kalau di hubungan sosial sehari-hari ya biasa saja.

Menariknya, para raja di Bali ini, justru memiliki “pengikut tradisional” dari kalangan muslim selain juga masyarakat Hindu Bali pada umumnya. Pengikut tradisional ini berakar kuat di sebagian muslim di Bali yang lahir dan besar sejak Bali zaman kolonial atau sebelumnya. Sebagai contoh, Puri Pemecutan, salah satu dari tiga puri di Denpasar, memiliki hubungan erat dengan umat Islam Bali di daerah Kepaon dan Serangan.

Begitu pula Puri Kesiman, Puri Karangasem, dan puri-puri lain di Bali. Dalam beberapa ritual adat Bali dan sebaliknya, tradisi umat muslim di Bali, keduanya saling membantu. Hubungan ini terjaga sampai sekarang.

Kedua, ihwal Arya Wedhakarna yang memberikan imbauan seperti ditulis dalam berita itu. Orang ini memang kontrovesial di Bali. Dia tercatat sebagai pemegang rekor Museum Rekor Indonesia karena memegang jabatan Ketua Umum sangat banyak. Saat ini dia juga Ketua Dewan Pimpinan Daerah (DPD) PNI Marhaenisme, Rektor Universitas Mahendradata Bali, dan banyak jabatan ketua umum lain.

Saya sendiri belum pernah ngobrol secara langsung. Namun, dengan mudah mengikuti dia dari berbagai berita di media massa. Arya Wedakarna rajin sekali memasang berita iklan di beberapa media lokal dengan materi berita yang semuanya cenderung membesar-besarkan dia. Tentu saja dia bisa melakukannya karena berita tersebut memang berita iklan.

Bagi sebagian besar orang Bali, terutama anak-anak muda di perkotaan, tulisan tentang Arya Wedakarna justru jadi bahan olok-olok, sesuatu yang ditertawakan.

Dia juga sering membuat pernyataan sikap atas nama umat Hindu yang justru jadi blunder karena bagi sebagian tokoh Hindu di Bali, pernyataan tersebut tidak tepat. Salah satunya ya imbauan agar tidak memotong sapi, hal yang amat sensitif dan tak tepat tersebut. Dia juga pernah memprotes lagu Iwan Fals karena berjudul Manusia Setengah Dewa.

Namun, salah satu hal paling kontroversial dari Arya Wedakarna adalah karena dia mengaku sebagai Abhiseka Majapahit di Bali atau semacam Raja Majapahit Cabang (di) Bali. Klaim ini terus menerus dia sampaikan melalui media massa. Tapi, bagi kalangan bangsawan di Bali, klaim ini justru digugat. Secara resmi, para raja di Bali  pernah membuat pertemuan untuk membahas masalah ini. Arya Wedakarna adalah raja abal-abal.

Jadi, Arya Wedakarna jelas bukan Raja Bali. Klaim dia sebagai raja Bali justru digugat oleh kalangan bangsawan di Bali.

Ketiga, tentang imbauan agar umat Islam di Bali tidak memotong sapi saat kurban karena dianggap tidak menghormati umat Hindu di Bali.

Menurut saya, ini imbauan asal. Dari obrolan dengan beberapa pendeta maupun pemangku Hindu, tidak ada larangan terhadap umat Hindu Bali untuk memakan sapi. Hewan ini memang dihormati namun tidak kemudian menjadi terlarang. Lebih detail tentang boleh tidaknya sapi ini dimakan, tentu pendeta atau pemimpin Hindu yang lebih tepat menjelaskan ihwal ini, bukan saya.

Tapi, berdasarkan pengalaman pribadi saya, ada beberapa contoh tentang bagaimana umat Hindu Bali terkait makan daging sapi. Selama 15 tahun di Bali, saya belum pernah bertemu atau mendengar orang Hindu di Bali yang memprotes penyembelihan sapi untuk dijadikan bahan makanan. Saya juga belum pernah mendengar, dari pemimpin ataupun umat Hindu, bahwa penyembelihan sapi berarti tidak menghormati umat Hindu di Bali.

Ada beberapa orang di Bali yang tidak makan daging sapi. Tapi, pada umumnya karena alasan tidak mau, bukan karena dilarang. Orang semacam ini sangat sedikit. Dan, mereka juga baik-baik saja ketika makan bersama di warung yang menyediakan daging sapi.

Jika orang Bali memang memprotes pemotongan sapi, maka sejak dulu tidak akan ada orang makan daging sapi di Bali. Padahal, buktinya, keluarga besar saya di Bali yang Hindu dan orang Bali asli, justru kaya karena usaha dagang warung soto sapi. Pelanggannya juga orang-orang Bali sendiri.

Oleh karena itu, jika orang Hindu Bali sendiri baik-baik saja mengonsumsi daging sapi, mustahil mereka akan mengimbau atau bahkan melarang umat Islam untuk menyembelih sapi saat Idul Adha. Tak mungkin dan tidak tepat jika itu terjadi.

Jadi, tak usah ikut-ikutan jadi orang bebal hanya karena imbauan ngasal dari raja abal-abal..

Authors
Anton Muhajir

Jurnalis lepas, blogger, editor, dan nyambi jadi tukang kompor. Mengelola Sloka Institute sambil sesekali menulis lepas di media arus utama ataupun media komunitas. Kuliner, jalan-jalan, pemberdayaan warga, HIV dan AIDS, pertanian berkelanjutan, dan kelompok terpinggirkan adalah isu-isu yang membuatnya bersemangat 45 untuk menulis.

Related posts

Komentar via Facebook
Top