Bioskop Denpasar

Oleh Darma Putra

iklan-indra-blog.jpg

Jauh sebelum hadirnya televisi, VCD, dan DVD, gedung bioskop merupakan salah satu lambang modernitas kota Denpasar. Kapan pastinya gedong bioskop berdiri di Denpasar perlu diteliti lebih jauh. Yang jelas, pada tahun 1950-an, media massa yang terbit di Bali sudah menyebutkan kegandrungan kalangan elit dan remaja kota menonton film, berarti gedung bioskop sudah hadir saat itu.

Tahun 1950-an dan seterusnya, di Denpasar sudah sering diputar film asing, mulai dari film Barat, India, dan belakangan juga film Cina. Saat itu, gedung bioskop yang sudah disebut-sebut hadir adalah Wisnu Theatre dan Holliwood, keduanya terletak di Jalan Gajah Mada. Holliwood ini kemudian berubah nama menjadi Indra Djaja. Film Amerika yang popular tahun 1950-an itu antara lain ‘Samson and Delilah’ dan ‘Hercules’.

Wisnu dan Indra, keduanya nama dewa dalam Hindu, mungkin merupakan dua gedung bioskop tertua di Denpasar. Wisnu hidup sampai akhir 1970-an, lokasinya di Jl Gajah Mada (pas barat gedung BNI sekarang), sedangkan Indra Djaja yang kemudian berganti nama menjadi Indra Theatre beroperasi sampai 1980-an, setelah beberapa kali renovasi. Lokasinya di ujung barat Jl Gajah Mada, selatan jalan. Gedung ini kini berdiri sunyi, mungkin menjadi monument cinta bagi sebagian warga kota yang dulu biasa mengajak pacar menonton di sana.

Wisnu pernah tampil memutar film panjang, yaitu “Buddha”, tepatnya 20-22 Desember 1968. Harga tiketnya Rp 75 untuk kelas I, dan Rp 65 untuk kelas II. Film kisah Buddha Gautama ini panjangnya 3 jam, sehingga diputar dua kali setiap malam, pukul 18.00, dan pukul 21.00. Tidak jelas, apakah film ini hitam putih atau warna.

Gedung bioskop lain yang beroperasi di Denpasar pertengahan tahun 1970-an adalah Jaya Theatre. Lokasi Jaya terakhir adalah di Jl Kartini, timur jalan, dekat tikungan ke Jl Nakula. Dibandingkan kelasnya, Indra Theatre yang paling mewah. Tapi, sering pula film yang diputar di Indra juga ditayangkan di Jaya, bisa pada hari yang sama, bisa juga sesudahnya. Apalah artinya kemewahan kalau filmnya sama. Tahun 1980-an, Jaya sempat memutar film Australia, “Corocodile Dundee”.

Tahun 1971, Indra pernah memutar film “Pengantin Remadja” yang dibintangi Widyawati dan Sopan Sophiaan, mungkin saat itu pasangan suami-istri ini masih pacaran. Fim yang disutradarai oleh Wim Umboh ini memenangkan piala gambar terbaik dalam festival film Asia ke-17 di Taiwan. Pada massa jayanya, Indra pernah memutar film King Kong, yang waktu itu menjadi buah bibir. Juga film “Balas Dendam”, yang syutingnya diambil di Bali.

Selain di gedung bioskop, pemutaran film juga dilakukan di hotel. Hotel Bali Beach, misalnya, pada 2 Januari 1967, memutar film “The Barbarian and the Geisha” dengan harga tiket Rp 50. Dalam iklannya di koran Suluh Marhaen (nama lama Bali Post), hotel yang berdiri tahun 1966 ini menyebutkan bahwa film yang diputar ini ‘color by delux’, artinya sudah berwarna. Kalau sekarang hotel menjadi gedung bioksop, bisa-bisa kena kritik mencaplok ladang bisnis orang.

Gedung bioskop yang popular dan tidak menggunakan nama dewa adalah Denpasar Theatre. Tak jelas kapan gedung bioskop ini berdiri, yang jelas sudah beroperasi tahun 1973. Ini dikethaui dari iklannya di koran lokal ketika memutar film Amerika “A Man to Respect” pada 1 Oktober 1973. Gedung bioskop mewah ini terletak di Jl Diponegoro, dan memancarkan kejayaannya tahun 1970-an dan 1980-an.

Di masa jayanya awal tahun 1980-an, Denpasar Theatre pernah menjadi tamu bitang film Hollywood yang sexy, Edwich Veneech (?), yang tampil sebelum filmnya diputar. Wartawan lokal berebutan meliputnya, begitu juga pejabat banyak yang ingin melihat langsung si bintang film ini. Isitlah selebriti belum dikenal waktu itu. Sinar Denpasar Theatre surut menjelang tahun 1990-an, sampai akhirnya lokasinya dijadikan kantor bank BDNI, yang kini juga sudah ambruk menyusul gelombang kredit macet perbankan pertengahan 1990-an.

Selain Indra, Wisnu, Jaya, di Denpasar juga pernah hadir Nirwana Theatre, lokasinya di Jl Hasanudin, tepi kali Badung, tepatnya di gedung BCA sekarang. Nirwana Theatre dulu satu gedung dengan kantor GIEB (Gabungan Import-Export Bali). Usia Nirwana tak lama, artinya berdiri paling akhir, berhenti operasi paling awal. Pada masa jayanya, Nirwana Theatre kerap memutar film silat Bruce Lee, atau film Indonesia yang lucu seperti “Inem Pelayana Sexy”, atau yang mengandung unsur magik “Babi Ngepet”.

Memasuki tahun 1980-an, Denpasar mendapat beberapa gedung bioskop baru, seperti Kumbasari Theatre dan Wisata Theatre, sementara Indra Theatre waktu itu melakukan renovasi. Saat itu, bintang film mulai datang ke Bali untuk promosi filmnya, dan biasanya diarak keliling kota dan ditampilkan di gedung bioskop sebelum film mereka diputar.

Wisata Theatre di Jl Thamrin (kini Ciniplex 21) muncul ketika jaya-jayanya film jenaka Warkop Dono-Indro-Kasino seperti “Pintar Pintar Bodoh” atau film percintaan rumah tangga mengharukan “Kabut Sutra Ungu” dan cinta remaja “Arjuna Mencari Cinta”. Film “Killing Field” dan “Gandhi” juga pernah diputar di Wisata Theatre. Penontonnya ramai sekali. Pertokoan di sana juga jadi ramai dan laku.

Masih ada beberapa gedung bisokop yang memutar film seperti Lila Bhuwana dan Pemedilan Theatre (kini jadi pasar), juga di beberapa tempat umum seperti bale banjar yang diubah jadi gedung bioskop. Film yang sudah diputar di gedung besar, diputar di tempat ini dengan harga tiket yang lebih murah, duduk di kursi kayu. Penontonya jalan kaki atau naik sepeda, sesuai kelasnya. Saat hari raya Galungan dan Kuningan, Natal, Tahun Baru, dan Lebaran, gedung bisokop senantiasa ramai. Hari raya biasanya dijadikan kesempatan untuk launching film baru.

Kehadiran gedung bioskop dan film di Denpasar tahun 1950-an, disambut riang sekali sekaligus juga dikritisi. Diharapkan karena film lambang kemajuan, tetapi dikritik karena waktu itu banyak anak muda (tentu saja juga orang tua) terkena pengaruh pergaulan bebas yang dihembuskan oleh film. Menjadikan film sebagai kambing hitam masih berlanjut sampai sekarang.

Kecuali Ciniplex 21 (di Wisata dan di Simpang Siur), semua gedung bioskop di atas sudah mati, seiring dengan maraknya televisi, VCD, dan DVD. Kaset film bajakan dengan mudah didapat sehingga menyurutkan jumlah orang menonton ke bioskop. Akhirnya, gedung bioskop yang dulu pernah menjadi lambang modernitas warga kota Denpasar, kini seperti pudar sudah. [b]

Authors

I Nyoman Darma Putra. Lahir, besar, dan tinggal Padangsambian, Denpasar. Pernah tinggal di Brisbane, Australia (1998-2002; 2007-2009). Saat ini adalah dosen Jurusan Sastra Indonesia Fakultas Sastra dan Budaya Universitas Udayana sekaligus Ketua Program Studi Magister Kajian Pariwisata Universitas Udayana.

8 Comments

  1. Hermen said:

    Tak ada yang abadi, selain perubahan yang bergulir dalam detak jantung peradaban. Meski bioskop-bioskop tua tinggal kenangan, tetapi kehadiran mereka telah meletakan dasar-dasar modernitas. Saya salut dengan romantisme tulisan Pak Darma Putra soal Denpasar ‘tempo doeloe.
    Denpasar kini telah berubah menjadi kota urban penuh problematika sosial, alih fungsi lahan, pemukiman kumuh dan liar serta segudang masalah sosial lainnya.
    Satu masalah sosial yang mendesak untuk dipikirkan oleh ‘penduduk asli Denpasar (Bali) adalah suatu formula yang mengatur soal ‘penjualan tanah’. Meski aspek ini masuk kategori urusan privat, tapi tanah adalah identitas budaya dan historis yang tak bisa diabaikan begitu saja. Meski terlahir bukan sebagai orang Bali, tapi saya dirundung sebuah kegelisahan soal masa depan Denpasar (Bali). Bagaimana nasib Denpasar masa depan, jika saat ini warganya tidak mengantisipasi ‘serbuan’ kaum kapitalis (investor) yang secara sistematis mulai menguasai (membeli) tanah-tanah di Denpasar dan sekitarnya.
    Usulan saya, meski gemerlap pembangunan dilabeli dengan argumen demi kemajuan di era global, penduduk asli sebaiknya berinisiatif bersama untuk selalu ‘menyewakan’ tanah untuk jangka waktu tertentu kepada investor, bukan menjualnya. Sebab daya tarik Denpasar (Bali) adalah kultur dan warna khas kehidupan harian penduduk Hindu Bali. Jika hal ini dianggap sepele, bukan tidak mungkin penduduk asli Denpasar menjadi Betawi kedua dan Bali pun siap-siap menjadi Hawaii kedua. Terimakasih kepada Pak Darma Putra yang hebat dalam gaya bertutur dan menulis dengan bahasa mengalir, sejuk dan mendayu.

  2. Koen Binawan said:

    Terima kasih Pak Darma, karena tulisan ini bisa mengingatkan saya waktu masih SD dulu. Saat itu masih berlaku tiket “free pass” yang biasanya diberikan oleh karyawan (orang dalam) bioskop ke relasinya dan jika menunjukkan kartu pelajar, bisa mendapatkan karcis separuh harga. Kondisi ini sangat membantu pelajar yg uang jajannya sangat terbatas, seperti saya ini.

  3. Putu Ebo said:

    Bukankah Nirwana Theatre itu dulu lebih dikenal dengan film indianya? Juga jangan lupa dengan Sahira, Timur Theater, Kumbasari, Gajahmada, Indra dan New Jaya. He he jadi ingat masa lalu. Saya jadi pikir pingin bikin artikel yang serupa…. salut pak!

  4. yoyok1857 said:

    Tulisan yang bagus, detail dan mengingatkan masa lalu yang manis. Ditunggu tulisan selanjutnya, Pak Darma.
    Salam

  5. ivan syahputra said:

    tulisan yang bagus,
    mengingatkan kita pada kota denpasar tempoe doeloe
    ada foto-foto yang lain nggak /
    mslnya jalan gajah mada tahun 1970-an..
    tks.

    teruslah menulis…saya tunggu..

  6. Pram said:

    bli, jika boleh tau gambar poster itu dapat dimana ya? boleh saya gunakan untuk pembuatan film dokumenter (ada hubungan dengan bioskop di denpasar jaman dulu), terima kasih

    Pram

  7. jpyoga said:

    Bagus banget tulisannya. Saya cuma tahu Wisata aja, ternyata 1950 udah ada Bioskop di Kota Denpasar. Gak kebayang waktu itu gimana kondisi kota Denpasar 🙂

*

Top