Danau Buyan Meluap, Petani Rugi Ratusan Juta

Setidaknya 200 petani di Pancasari mengalami kerugian akibat air danau meluap. Foto Anton Muhajir.

Tak ada lagi tanaman stroberi di kebun Gede Sudarsana.

Lahan seluas 3 hektar di Desa Pancasari, Kecamatan Sukasada, Kabupaten Buleleng, Bali itu kini terendam air. Sejak sekitar sebulan lalu, lahan ratusan petani di tepi Danau Buyan itu pun tak lagi berfungsi, seperti halnya Gede.

Kebun itu kini lebih serupa rawa-rawa. Tidak ada lagi satu pun sayur atau buah-buahan. Hanya rumput, kangkung, dan enceng gondok di lahan itu. Padahal, kebun itulah sumber pendapatan utama Sudarsana sebelumnya.

Kamis pekan lalu, Gede tak lagi memanen stroberi, komoditas andalannya selama ini. Bersama petani lain, mereka mencari rumput dan kangkung yang kini subur di bekas kebun stroberinya. “Mending cari rumput untuk makanan babi. Sekalian menghilangkan stres. Daripada sakit jiwa gara-gara rugi,” katanya lalu tertawa.

“Mau diapain lagi. Ini sudah biasa terjadi,” tambahnya.

Pancasari termasuk salah satu desa di kawasan Bedugul yang terkenal sbagai pusat produksi sayur mayur maupun stroberi. Di desa ini terdapat Danau Buyan, salah satu dari empat danau di Bali. Namun, sebulan terakhir, air yang meluber telah menghancurkan kebun-kebun di sekitar danau seluas 360 hektar ini.

Akibat kejadian tersebut, bukan hanya lahan Sudarsana yang menjadi korban tapi juga ratusan petani lain, termasuk Nyoman Suardana dan Made Arsana.

Nasib Suardana memang tak seburuk Sudarsana. Dari 65 hektar lahannya, hanya separuh yang terkena luapan air dari Danau Buyan. Setengahnya lagi masih bisa ditanami sayur mayur, seperti selada, mint, dan seledri. Toh, dia mengaku tetap merugi setidanya Rp 10 juta akibat luapan air Danau Buyan tersebut.

“Kerugian paling besar karena pembelian pupuk dan plastik,” katanya.

Menurut Suardana, luapan air Danau Buyan menenggelamkan lahan milik setidaknya 200 petani. Luas lahan maupun kerugian mereka pun beragam. Dari kerugian sekitar 30 are seperti dia hingga 3 hektar seperti yang dialami Sudarsana. Nilai kerugiannya antara Rp 10 juta sampai Rp 70 juta.

Wilayah yang terendam air, setidaknya meliputi tiga banjar yaitu Buyan, Dasong, dan Peken. Wilayah ini semuanya berada di sisi selatan dan timur Danau Buyan. Adapun wilayah di sisi utara langsung berbatasan dengan tebing bukit sehingga tidak ada lahan pertanian sama sekali.

Umumnya, jenis komoditas yang paling mengalami kerugian adalah stroberi. I Made Arsana, petani lain, mengalami kerugian Begitu pula I Made Arsana, petani lain. Dia mengaku mengalami kerugian sekitar Rp 10 juta. “Saya tidak terlalu rugi karena tanaman saya sudah berumur lebih dari dua tahun. Sudah sering panen. Jadi ongkosnya sudah balik,” katanya,

Dia merasa nasibnya tidak seburuk kakaknya, yang rugi sampai Rp 70 juta. “Tanamannya baru umur tiga bulan. Baru dua kali panen awal dengan hasil seberapa. Eh, sudah keburu kena banjir,” katanya.

Dibandingkan tiga danau lain di Bali, Danau Buyan mengalami sedimentasi paling tinggi. Foto Anton Muhajir.

Pendangkalan
Menurut Suardana, luapan air Danau Buyan yang masuk hingga merusak kebun-kebun petani sudah pernah terjadi sebelumnya. Sekitar lima tahun lalu, lanjutnya, luapan air bahkan sampai di jalan desa yang berjarak sekitar 300 meter dari batas air saat ini.

Tahun ini, meluapnya air hujan terjadi akibat tingginya curah hujan sebulan lalu. Setelah hujan deras berhari-hari saat itu, air kemudian menggenangi lahan-lahan pertanian dan tidak surut sampai sekarang.

Semua petani mengatakan, saat ini Danau Buyan memang mengalami pendangkalan. Sebagai warga setempat yang lahir dan besar di sekitar danau, mereka mengalami perubahan itu. Penyebab pendangkalan itu karena tanah dari bukit di sisi selatan danau kini makin banyak terbawa air terutama saat musim hujan.

“Sekarang kalau hujan, tidak hanya air yang datang tapi juga tanah dari bukit-bukit di atas sana,” kata Suardana.

Alih fungsi lahan dan pergantian komoditas pertanian yang menyebabkan tanah dan air kini langsung terbawa ke danau saat musim hujan. Suardana mengatakan, pada 1990-an, komoditas utama yang ditanam petani di lereng-lereng bukit adalah kopi. Namun, saat ini petani beralih ke tanaman sayur dan stroberi.

Hal tersebut mereka lakukan karena komoditas kopi dianggap kurang menguntungkan secara ekonomi. Tanaman kopi baru menghasilkan setelah berumur setidaknya 2,5 atau 3 tahun. Dalam setahun, dia hanya panen sekali.

Ini berbeda dengan komoditas hortikultura, sepertu sayur mayur dan stroberi. Umumnya, sayuran sudah bisa dipanen pada umur 3-4 bulan. Buah stroberi pun demikian. Dia malah bisa dipanen tiap dua hari sekali hingga umurnya mencapai dua tahun. “Menanam sayur memang lebih capek, tapi lebih banyak dapat uang,” kata Suardana.

Dengan pendapatan dari sayur yang lebih menggoda, petani pun beralih ke sayur. Pohon-pohon kopi di atas bukit kemudian dibabat, menghilangkan tanaman berakar kuat yang biasanya mampu menyimpan air sekaligus menahan tanah. “Ya mau bagaimana lagi. Itu tanah-tanah mereka sendiri ya terserah mau ditanami apa,” ujar Suardana.

Saat ini harga stroberi di tingkat petani mencapai Rp 20 ribu hingga Rp 30 ribu per kg. Tiap panen dua hari sekali, dari lahan seluas 4 are, mereka bisa mendapatkan 20 kg. Dengan asumsi harga rata-rata stroberi Rp 25 ribu per kg, maka tiap panen mereka bisa mendapat Rp 500 ribu dari lahan seluas itu.

Di atas kertas, petani seperti Suardana dengan sekitar 30 are bisa kehilangan pendapatan hingga Rp 3,75 juta tiap panen. Namun, dia mengaku tidak menghitung sejauh sejauh itu kerugian yang mereka alami. “Saya anggap kerugian hanya pada biaya pemupukan dan plastik,” ujarnya.

Petani pun hanya bisa pasrah. Mereka tidak bisa berbuat apapun untuk mengatasi air yang meluap. Tidak juga dengan meminta bantuan ke pemerintah.

Petani beralih ke sayuran karena dianggap lebih cepat menghasilkan. Foto Anton Muhajir.

Eksploitasi
Ni Luh Ketut Kartini, Dosen Program Studi Agro Ekoteknologi Fakultas Pertanian Universitas Udayana mengatakan, pendangkalan di Danau Buyan sebenarnya juga terjadi di tiga danau lain meskipun tidak separah di Buyan. “Dari empat danau di Bali, Danau Buyan memang mengalami sedimentasi paling parah,” katanya.

Dosen yang juga Direktur Bali Organic Association (BOA) itu membenarkan pendapat para petani tentang penyebab pendangkalan. “Sedimentasi Danau Buyan terjadi karena masifnya alih fungsi lahan,” katanya. Selain karena pergantian komoditas dari tanaman umur panjang seperti kopi ke hortikultura termasuk sayur, pembangunan fasilitas wisata seperti vila juga menyebabkan terjadi erosi yang tanahnya menuju danau.

Danau Buyan termasuk salah satu dari empat danau yang ada di Bali. Danau paling luas adalah Batur dengan luas 1.607,5 hektar dan kedalaman 58 meter. Lokasinya di Kabupaten Bangli. Setelah itu ada Danau Beratan di Tabanan seluas 379 hektar dengan kedalaman 35 meter. Danau Buyan dengan luas 360 hektar dan kedalaman 87 meter serta Danau Tamblingan seluas 110 hektar dengan kedalaman 90 meter berada di Kabupaten Buleleng.

Dari empat danau itu, secara fisik memang Danau Buyan terlihat mengalami sedimentasi paling parah.

Menurut Kartini, masalah lain yang dialami danau-danau tersebut adalah pencemaran akibat penggunaan bahan kimia pertanian. “Bukan hanya air yang mengalami eksploitasi untuk kebutuhan irigasi maupun air minum, tapi tanah sekitarnya juga dikapling-kapling untuk bisnis dan pariwisata,” katanya. [b]

Authors

Jurnalis lepas, blogger, editor, dan nyambi tukang kompor. Mengelola Sloka Institute sambil menulis lepas di media arus utama ataupun media komunitas.

Catering Bali

Related posts

*

Top