Jalan Kaki Menikmati City Tour Semarapura

Puri Klungkung dulunya menjadi pusat kekuasaan Bali. Foto Luh De Suriyani.

Kamu punya waktu berapa lama ketika di Bali? 

Jika cuma 2-3 jam, sangat bisa menikmati city tour Semarapura, ibukota Kabupaten Klungkung dengan cukup puas. Bahkan bisa mengelilingi 3-4 landmark dalam satu jam saja. Cukup jalan kaki. Sehat fisik dan jiwa.

Misalnya nih, kamu dari Sanur atau kota Denpasar, maka arahnya ke timur. Melewati jalan Bypass IB Mantra kemudian belok kiri menuju Takmung atau Dawan. Coba cek rutenya lewat aplikasi peta di ponselmu. Jika jalanan lancar, bisa sampai pusat kota Semarapura sekitar satu jam.

Sampai di pusat kota, dijamin tidak akan bingung karena antar penanda kota (landmark) sangat berdekatan. Mari buktikan betapa asyiknya city tour Semarapura ini.

Patung Kanda Pat Sari
Perempatan agung atau utama di area ini berbentuk pahatan empat sosok patung jadi satu. Arsiteknya Ida Bagus Tugur, menyimbolkan empat “saudara” manusia saat lahir yakni ari-ari, darah, air, dan tali pusar.

Tiap perempatan besar di kabupaten dan kota di Bali biasanya ada landmark khusus, nah Semarapura dengan Kanda Pat Sari ini.

Di perempatan utama sering jadi titik lokasi perhelatan event, upacara keagamaan, dan lainnya. Sebagai penyeimbang atau penjaga keharmonisan.

Patung Kanda Pat Sari di CatusPata (perempatan utama) Kota Semarapura. Foto: Luh De Suriyani

Pasar Senggol
Sekitar patung Kanda Pat adalah lokasi-lokasi keramaian utama misal Pasar Senggol, pasar malam tempat berburu kuliner aneka jenis khas Bali dan juga menu kebanyakan macam nasi goreng dan sate ayam. Pedagang baru buka sore hari sampai tengah malam.

Menu khas Klungkung yang banyak dijual adalah Serombotan. Ini mirip pecel tapi sayurnya lebih beragam seperti kangkung, tauge, pare, terong bulat, kacang-kacangan, dan lainnya tapi bumbunya parutan kelapa dengan sambal khas yang gurih pedas. Semi raw food tradisional Bali, gitu.

Ada juga jaje Bali yang dominan manis serta camilan lain. Pokoknya adil untuk semua kalau cari makan di Pasar Senggol, mengakomodasi semua keinginan.

Pedagang Pasar Senggol ada yang ikut dalam pesta kuliner di jalanan pusat kota Semarapura

Pusat Lukisan Kamasan
Sekitar 10 menit dari perempatan utama Kanda Pat Sari tadi. Salah satu desa wisata spesial City Tour Semarapura adalah gambar tradisional wewayangan khas Klungkung, Kamasan. Tak hanya berwujud dalam lukisan, juga dompet, cangkang telur, tas laptop, dan lainnya.

Atraksi melukis kamasan di aneka aplikasi bisa dilihat langsung, live, di desa wisata Kamasan ini. Kamu juga bisa mencoba belajar dan mengetahui sejarahnya di sini. Tinggal masuk ke rumah-rumah penduduk yang ditandai dengan papan nama sebagai pelukis Kamasan.

Monumen Puputan Klungkung menjadi salah satu lokasi menarik di Klungkung. Foto Luh De Suriyani.

Museum Monumen Puputan

Panggung seni Semarapura Fest 2017 di beranda Monumen Puputan Klungkung, tampil Klungkung Youth Choir. Foto LUh De Suriyani

Berada persis di sebelah perempatan utama. Ditandai sebuah monument setinggi 28 meter. Tinggal masuk dan langsung melihat diorama sekilas jejak sejarah Klungkung yang mengelilingi patung bagian dalam. Ada papan informasi yang mudah dibaca, dan membuat kamu satu level lebih melek sejarah.

Areal monumen ini sekarang makin ramai jadi tempat nongkrong karena ada air mancur menari. Berandanya jadi panggung musik dan even. Misalnya pemilihan Jegeg Bagus Klungkung dan penyanyi berusara lirih Raisa yang menutup Festival Semarapura 2017 pada 2 Mei.

Kertha Gosa
Obyek wisata paling ramai dan teduh ini juga berada persis di pojok perempatan utama. Berhadapan dengan Monumen Puputan. Yah, kok gampang dan enak sekali menyusuri city tour Semarapura? Ya demikanlah tata ruang pusat kota ini ramah pada pelancong short time.

Arsitektur Kerta Gosa

Kalau long time lebih bagus, bisa menjelajah, berdialog dengan warganya, dan menghayati selfie. Haha…

Kamu bisa naik ke Bale Kambang dan Bale Kertha Gosa yang plafonnya berhias lukisan khas Kamasan. Mengisahkan kehidupan dan legenda dengan menarik. Semacam urban legend di masa lalu. Ada manusia yang terlihat diguling di atas api dengan sejumlah alasan. Apa itu? Silakan lihat sendiri.

Bale Kertha Gosa ada dekat jalan raya. Di sini lah peradilan adat di masa kerajaan Klungkung dilaksanakan, masih lengkap dengan kuris, meja, dan formasinya.

Bagian lain kompleks ini adalah museum informatif terkait kehidupan, tata cara ritual, dan anggota kerajaan Klungkung. Ada juga arsip koran-koran berbahasa Belanda yang merekam Semarapura di masa lalu.

Tukad Unda
Pernah lihat foto seru sepasang calon penganten disiram air berbentuk simbol love di tirai air yang sangat deras? Di Tukad Unda, tepatnya bendungan dengan curah air stabil sepanjang tahun ini lah foto pre wedding dibuat.

Nyaris tiap hari, bahkan bisa beberapa pasang sehari mereka berbasah-basahan sambil berdesahan di dam Tukad Unda ini. Biaya pemotretan ini ada tarif resminya, terakhir Rp 250 ribu untuk pre wedding. Kalau selfi sekitar Rp 10 ribu.

Paling enak sih berendam sambil lihat kehebohan pengarah gaya menginstruksikan anak-anak sekitar yang langganan jadi model ini. Bisa diakses 10-15 menit jalan kaki dari perempatan utama.

Dam Tukad Unda, langganan foto pranikah dan selfie dengan latar tirai air. Foto Luh De Suriyani

Daftar harga resmi di Tukad Unda, Klungkung. Foto Luh De Suriyani

Pasar Seni
Masih ada waktu menikmati city tour Semarapura? Pilihan yang tak bisa ditolak lainnya adalah melihat dan membeli aneka kain tradisional termasuk tenun khas Klungkung di Pasar Seni. Banyak desainer baju membeli pasokan kain tenun di sini untuk disulap jadi aneka pakaian etnik modis.

Naik Dokar
Biar anak-anak lebih terhibur, naik dokar keliling kota adalah solusi jitu. Silakan manfaatkan momen langka, karena hanya ada tiga dokar tersisa dan aktif tiap hari ngetem mencari penumpang di Semarapura. Mereka biasanya ngetem di dekat terminal, dekat perempatan utama juga.

Hebatnya, ketiga kusir sudah sepuh umurnya sekitar 65-75 tahun. Kakek tertua kabarnya akan pensiun, dan belum ada generasi penerus. Naik dokar akan menjadi memori langka sekaligus menyedihkan sebelum transportasi publik tradisional ini hilang selamanya dari jalanan. [b]

Authors

Lahir dan besar di Denpasar. Ibu dua anak lelaki, tinggal di pinggiran Denpasar Utara. Anak dagang soto karangasem ini alumni Pers Mahasiswa Akademika dan Fakultas Ekonomi Universitas Udayana. Pernah jadi pemimpin redaksi media advokasi HIV/AIDS dan narkoba Kulkul. Sambil mengasuh Bani dan Satori, juga menulis lepas untuk sejumlah media seperti Bali Buzz dan portal Mongabay.

Catering Bali

Related posts

*

Top