Apakah Saya Seorang Penganut Hindu?

Kehinduan bisa ditakar melalui setidaknya dua parameter sederhana. 

Pertama, mengimani lima kepercayaan dasar dalam agama Hindu, yakni Panca Crada. Kedua, menjadikan Catur Weda (lima jika Bhagawadgita disepakati sebagai Weda kelima) sebagai pedoman hidup.

Sepintas, kedua prosedur standar tadi cukup memantaskan saya menyandang predikat sebagai seorang penganut Hindu. Prosedur yang saban detik menyelamatkan saya secara administrasi sebagai warganegara melalui pencantuman kata ‘Hindu’ di kolom agama Kartu Tanda Penduduk. Menyelamatkan saya secara sosio-religius sebagai orang beriman, bukan atheis.

Singkatnya, orang baik-baik.

Selesai? Belum. Persoalannya, agama atau iman, kita tahu, bukan cuma soal atribut lahiriah. Ia menyangkut upaya pergumulan batiniah seseorang di wilayah-wilayah yang tidak terbatas, semerdeka-merdekanya. Dengan pelbagai kemungkinan temuan, juga risiko kegagalan menemukan. Menjangkau dimensi-dimensi transenden yang tidak berpeta.

Kembali ke kehinduan saya.

Soal mengimani Panca Crada okelah. Yang butuh upaya ekstra, terutama ketika kita berbicara teks (kitab suci) sebagai terapan, adalah menjadikan kelima kitab suci Weda sebagai sesuluh atau pedoman hidup.

Saya misalnya. Sebagai khasanah pustaka -sekali lagi, sebagai khasanah pustaka-, saya memiliki kelimanya. Tidak lupa, dalam banyak kesempatan saya suka membolak-balik membaca halaman demi halamannya, tergerak mencerna teks-teksnya.

Malangnya saya tidak memiliki kecemerlangan pikir yang memadai soal itu. Sekhusyuk apa pun saya, ujungnya selalu tiba pada momen di mana saya gagal mengendapkannya. Jauh, jauh dari kategori khatam apalagi sampai pada tahap mempraktikkan bunyi sloka-sloka suci di dalamnya sebagai panduan laku sehari-hari.

Iman sebagai Adonan

Untuk alasan pendidikan, seperti kebanyakan orang lain, saya sempat menjalani fase hidup berpindah-pindah. Tumbuh di lebih dari satu wilayah geografis dengan lingkaran pertemanan, kultur, agama, sistem kepercayaan yang beragam.

Salah satu yang saya syukuri, saya berasal dari keluarga yang untuk soal-soal yang berkaitan dengan agama terbilang moderat. Mereka tidak terlalu membingkai saya ke dalam format tertentu bentukan mereka. Karenanya, seumpama seonggok plankton atau algae, saya leluasa berselancar sambil lalu di perairan-perairan sungai, menggumuni kolam atau sendang atau situ atau danau.

Dalam praktik iman, selain hinduisme sebagai akar darimana saya berangkat, saya menjumpai banyak sekali nilai-nilai baik yang bersumber dari ajaran agama lain. Versi iman lain yang saya sepakati, saya amini.

Saya mengagumi kearifan nilai-nilai lokal masyarakat Samin atau Sedulur Sikep, Sunda Wiwitan, orang-orang Badui, Tengger, Dayak, dan sebagainya. Setuju pada banyak butir ajaran Confusius. Menyepakati banyak sekali kebajikan-kebajikan yang terkandung dalam ayat-ayat Al-Quran, Al Kitab, Tripitaka.

Yang terjadi kemudian, mirip percampuran gen-gen dalam tubuh, saya tumbuh tidak lagi ‘genuine’ sebagai pribadi murni penyandang identitas tunggal. Di tubuh saya mengecambah tunas-tunas lain yang saling berjalin serap-menyerap.

Hanya, meskipun bukan persoalan yang penting-penting amat, saya kesulitan memberi nama, menyematkan simbol, atau melakukan tindak identifikasi tertentu terhadap konstruksi iman baru yang muncul akibat proses percampuran dan jalin-menjalin tadi.

Saya sadari betul tidak semua orang mengalami hal serupa dengan apa yang saya alami. Tidak semua orang mesti bersepakat dengan jalan tidak umum (untuk tidak menyebut absurd) yang saya lalui.

Ada mereka yang mujur bertemu jalan lempang, sonder hambatan, tanpa mesti ditekuk-tekuk oleh perasaan gamang. Ada mereka yang bersikukuh menyebut agamanya sebagai agama warisan. Bulat-bulat tanpa carangan atau kembang-kembang. Semua sah-sah saja.

Saya ingat sebait percakapan antara Kresna dan Arjuna dalam salah satu sloka Bhagawadgita menjelang perang besar Bharatayuda, “Aku perkenankan kau datang kepadaKu melalui jalan apa saja, menyebutKu apa saja, selama itu dengan hatimu.”

Semua iman, saya pikir, memiliki versinya sendiri. Unik dengan variasi kedalaman palung, taman dan kelok jalannya sendiri-sendiri. Dengan atau tanpa nama. Pada akhirnya semua orang mesti bersepakat dengan dunia kecil masing-masing, berkhidmat-khidmati dengan kekhasan iman sendiri tanpa harus diproklamirkan dalam langgam yang menghentak-hentak dan sikap-sikap yang ekspresif.

Pencari, Bukan Penemu

Pertanyaan iseng muncul. Apakah dengan begitu setiap orang berhak dan layak disebut penemu? Pencari barangkali, ya. Penemu? Saya ragu.

Apakah komposisi musik-musik The Beatles, The Who, Emerson Lake Palmer atau Roling Stones murni jerih payah pencarian mereka? Apakah tidak menampik kemungkinan ada warna-warna lain milik Elvis Presley atau dari jenis musik swing tahun 1920-an, misalnya, yang mereka kais-kais?

Maka setiap kali ada yang bertanya apakah saya seorang Hindu, saya harus pulang ke ‘rumah rahasia’ saya terlebih dahulu, bertanya kepada bangunan gagasan baru hasil pembauran berbagai-bagai itu. Yang saya dapat biasanya jawaban yang sublim. Abstrak tidak berbentuk.

Namun, demi kebaikan dan mangkusnya komunikasi, saya lebih sering memilih jenis jawaban sederhana yang cenderung mencari aman, “Ya, saya seorang penganut Hindu.” [b]

3 Comments

  1. Tiang nak Bali, meagama Bali, nenten ja meagama Hindu. Lamun dadi pengidih tiang, di KTP pang ngidang metulis agama Bali, pateh sekadi agama asli ring nusantara. Dumun dugas wenten NKRI kone meagama Tirta, mangkin payu meagama Hindu. Adi kenten? Sembah bakti tiange ring Hyang Widhi lan leluhur, ring piodalan miwah purnama tilem lan kajeng kliwon, tur rahina sane lianan.

  2. Mantap dengan tampilan barunya. 🙂

  3. ayey! fontnya lebih enak dibaca.
    selamat

Komentar Anda