Perayaan Tahun Baru di Denpasar Tempo Doeloe

Nonton di bioskop menjadi gaya hidup untuk perayaan tahun baru di Denpasar tempo doeloe. Foto arsip Bali Post.

Dulu, menonton film menjadi pilihan keren merayakan tahun baru.

Menonton film di malam ‘Old and New’ adalah salah satu fesyen bagi remaja Denpasar pada 1970-an dan 1980-an. Tempat hiburan belum banyak. Maka menonton film adalah pilihan favorit untuk merayakan pergantian tahun.

Pada malam ‘Old and New’, gedung-gedung bioskop di Denpasar menggelar show istimewa. Dikatakan istimewa karena pada malam pergantian tahun itu, film diputar pada tengah malam, pk. 12.00, mewarnai detik-detik pergantian tahun.

Beda dengan hari-hari biasa.

Pada hari biasa, bioskop di Denpasar biasanya memutar film dua atau tiga kali show, mulai pukul 17.00-19.00, dan 19.00-21.00. Kalau untuk tiga kali show, diputar satu lagi pk. 21.00-23.00. Setelah itu tutup. Kalau empat kali show, biasanya mulai pk. 15.00. Hari Minggu sering ada show siang hari.

Pada malam pergantian tahun, diadakan pemutaran khusus, mulai pk. 12.00 sampai pk. 04.00 pagi hari. Film yang diputar pada malam melepas tahun lama biasanya diiklankan dengan intensif di koran lokal atau radio. Agar banyak yang menonton.

Yang diputar tentu film istimewa, termasuk film Barat, seperti tampak pada iklan malam Old and New tahun 1978, yaitu film Hong Kong The Prodigal Boxer dan film Italia Hit Squad.

Saat itu di Denpasar ada bioskop Denpasar Theatre, Indra Theatre, Wisata Theatre, Nirwana Theatre, Wisnu, dan Jaya. Beberapa bioskop berkelas juga ada di Tabanan dan Singaraja. Banyak anak muda Denpasar yang baru mengenal sepeda motor dengan lempang meluncur film sampai ke Tabanan.

Warga Denpasar yang mengajak pacar menonton ke Tabanan akan merasa tidak malu, karena tidak ada yang mengenali mereka di kota lain.

Begitu juga sebaliknya, remaja Tabanan menonton di Denpasar. Boncengan dalam perjalanan sendiri adalah bonus waktu pacaran, romantis dalam bermotor bersama.

Berdekatan
Di Denpasar, lokasi bioskop berdekatan sehingga tak jarang film baik diputar di dua bioskop pada jam berhampiran. Mereka tinggal mengoper-oper roll film dari satu tempat ke tempat lain, dengan selisih waktu putar 10-15 menit.

Bioskop Indra di ujugn utara Thamrin dengan Wisata Theatre di Jln Thamrin hanya berseberangan jalan. Denpasar Theatre di Jalan Diponegoro dan Nirwana Theatre Jln Hasanudin (kini Gedung Bank BCA) juga dekat. Tidak ada jalanan macet yang dapat menghambat oper-operan roll film, apalagi itu jalan satu arah.

Siapa menonton?

Biasanya yang banyak menonton film di malam ‘Old adn New’ adalah anak muda Depasar yang tergolong kelas memengah ke atas. Menonton film di bioskop tahun 1970-an adalah sebuah kemewahan. Seseorang harus memiliki cukup uang untuk membeli tiket.

Sayangnya, harga tiket tidak dicantumkan di iklan film di koran.

Tidak banyak sumber hiburan di Denpasar saat itu. Tidak mengherankan kemudian kalau hiburan menonton film merupakan salah satu pilihan utama.

Menonton film merupakan fesyen saat itu, lambang kemajuan, modernitas, dan status. Menonton film tidak saja sebagai hiburan, tetapi juga identitas diri modern.

Selain di bioskop, film nyaris tak bisa disaksikan di mana pun. Di beberapa tempat atau desa-desa kadang ada layar tancap, pemuteran film untuk gali dana bagi komunitas atau banjar.
Beda dengan kini, film bisa ditonton di komputer, TV, dan bahkan HP.

Nonton layar lebar di gedung bioskop sempat matisuri, belakangan hidup lagi dengan film-film berkualitas. Kalau tidak berkualitas, film tidak laku.

Penonton tidak khawatir toh mereka bisa menonton film di mana saja, tak bergantung pada bioskop seperti tahun 1970-an.

Makanya, merayakan pergantian tahun dengan menonton film Old and New sudah bukan merupakan gaya hidup lagi, mesti sesekali ada juga bioskop yang menawarkan hiburan gaya tempo doeloe itu. [b]

Authors

I Nyoman Darma Putra. Lahir, besar, dan tinggal Padangsambian, Denpasar. Pernah tinggal di Brisbane, Australia (1998-2002; 2007-2009). Saat ini adalah dosen Jurusan Sastra Indonesia Fakultas Sastra dan Budaya Universitas Udayana sekaligus Ketua Program Studi Magister Kajian Pariwisata Universitas Udayana.

Catering Bali

Related posts

*

Top