Empat Film tentang Anak di Sinema Bentara

Bentara Bentara menghadirkan empat film tentang anak termasuk film berjudul Horizon Beautiful dari Jerman.

Empat film tentang anak akan hadir di Bentara Budaya Bali pekan ini.

Film-film dari Indonesia, Jerman dan India itu akan ditayangkan pada program Sinema Bentara di Bentara Budaya Bali (BBB), Kamis (15/6) hingga Jumat (16/6). Pemutaran mulai pukul 17.00 WITA ini digelar dalam konsep Misbar, di area terbuka dan menggunakan layar lebar.

Keempat film tentang anak tersebut antara lain, Kalau Saja Punya Sepeda (Indonesia, 2015, Sutradara: Agus Maladi Irianto); Atambua 39 Derajat Celcius (Indonesia, 2012, Sutradara: Riri Riza); Horizon Beautiful (Jerman, 2013, Sutradara: Stefan Jäger); dan Udaan (India, 2010, Sutradara: Vikramaditya Motwane). Semuanya terbingkai dalam tematik Sinema Bentara “Cerita Tak Terlupa”.

Film-film tersebut secara khusus mengetengahkan kisah tentang anak-anak yang terpinggirkan, yatim atau piatu di tengah keterbatasan sosial dan ekonomi. Atau di sisi lain, mereka terpaksa berpisah dari anggota keluarganya akibat konflik dan perang. Segala bentuk pengalaman dan peristiwa yang dialami anak-anak semasa perkembangannya akan senantiasa terbawa hingga mereka dewasa dan menjadi kisah yang tak terlupa.

Adapun pemilihan tematik film tentang anak yang diputar kali ini juga diniatkan untuk memaknai Hari Anak Internasional yang jatuh pada 1 Juni.

Film Kalau Saja Punya Sepeda karya Agus Maladi Irianto, mengisahkan seorang anak SMP yang tinggal di pemukiman kumuh dan terpaksa harus bekerja keras demi mewujudkan keingannya memiliki sepeda. Film berdurasi 22 menit ini diproduksi oleh Laboratorium Seni dan Kebudayaan Lengkok Cilik didukung oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI. Film ini juga meraih nominasi Film Fiksi Terbaik pada Anti Corruption Film Festival (ACFFest) 2015.

Sementara dalam Atambua 39 Derajat Celcius, arahan Riri Riza, Joao telah terpisah dari ibunya sejak umur 7 tahun. Ia dibawa eksodus ayahnya pindah ke Atambua setelah referendum 1999, sementara ibu dan dua adiknya yang masih bayi tinggal di Liquica, Timor Leste.

Film ini ditayangkan pada Tokyo International Film Festival 2012 dan meraih penghargaan Sutradara Terbaik pada Asean International Film Festival and Award 2013 serta menerima INALCO Jury Award pada Vesoul Asian Film Festival 2013.

Atambua 39 Derajat Celcius termasuk film tentang anak setelah referendum Timor Timur yang akan diputar di Sinema Bentara. Foto Kompas.com

Sinema dari India, berjudul Udaan, mengetengahkan konflik keluarga antara Rohan Singh dengan sang ayah. Ia yang selama delapan tahun tak bertemu ayahnya harus berhadapan dengan kenyataan yang terjadi di keluarganya saat ini.

Film karya Vikramaditya Motwane ini meraih nominasi Golden Camera dan Un Certain Regard Award pada Cannes Film Festival 2010 dan nominasi Film Terbaik pada Asia Pacific Screen Awards 2010. Dia juga mendapat nominasi Cerita Terbaik dan Sutradara Terbaik pada International Indian Film Academy 2011 dan nominasi pada Warsaw International Film Festival 2010.

Film ini menerima penghargaan Film Terbaik pada Deauville Asian Film Festival 2011 dan Filmfare Awards 2011 serta Los Angeles Indian Film Festival 2011 dan Zee Cine Awards 2011.

Terakhir adalah film fiksi panjang berjudul Horizon Beautiful. Film ini menceritakan tentang seorang anak jalanan yatim piatu berusia 12 tahun bernama Admassu tinggal di Addis Adaba, Ethiopia. Suatu hari, ia bertemu dengan Franz, seorang tokoh sepak bola dunia yang melakukan tur promosi ke Addis Ababa.

Film ini dinominasikan pada Hamburg Film Festival 2013 dan meraih penghargaan Special Prize of the Festival Director di International Young Audience Film Festival Ale Kino! ke-31 tahun 2013 di Polandia. Film ini mendapatkan Special Mention pada International Children and Youth Film Festival di Madrid 2013, Film Terbaik pada Festival Film Anak (FIFEJ) di Tunisia 2014 dan Dubai International Children’s Film Festival 2014.

Selain pemutaran film, program ini juga menggelar Diskusi Sinema bersama Dr. Maman Wijaya, Kepala Pusat Pengembangan Film dan Komang Rahayu Indrawati, S.Psi, Dosen Psikologi Universitas Udayana.

Program Sinema Bentara kali ini didukung oleh Bioskop Keliling BPNB Bali Wilayah Kerja Bali, NTB, NTT Kemendikbud RI, Pusat Pengembangan Film Kemendikbud RI, Pusat Kebudayaan Jerman Goethe Institut Indonesien, Indian Cultural Centre Bali dan Konsulat Jenderal India di Denpasar, serta Udayana Science Club. [b]

Komentar Anda