Antologi Puisi Wajah Klungkung dalam Sastra

Suasana peluncuran buku Antologi Puisi Klungkung.

Suasana peluncuran buku Antologi Puisi Klungkung. Foto Ahmad Muzakky.

Museum Nyoman Gunarsa, Klungkung terlihat ramai. 

Beberapa pejabat publik, tokoh kesusastraan dan penyair hadir Jumat malam lalu. Mereka menjadi saksi peluncuran antologi puisi Klungkung: Tanah Tua Tanah Cinta. Acara ini untuk merayakan 88 tahun Sumpah Pemuda.

April Artison, ketua panitia penyelenggara dalam sambutannya mengatakan Klungkung dipilih menjadi tema dalam acara ini untuk mengingatkan bahwa wilayah terpencil di Bali ini memiliki sejarah peradaban sangat panjang yang diwarisi hingga kini.

Peradaban Klungkung yang memilliki nilai sejarah tersebut antara lain Puri Agung Klungkung, Kerthagosa, Kusamba, kampung muslim Gelgel, dan masih banyak lagi.

“Informasi-informasi mengenai Klungkung dengan mudah didapatkan melalui beragai sumber. Namun, bagi kami, melalui puisi adalah cara berkomunikasi yang paling intim menyuarakan Klungkung,” tambah April.

Judul buku antologi puisi ini diadopsi dari judul salah satu puisi yang lolos seleksi, “Klungkung: Tanah Tua, Tanah Cinta”. Puisi ini ditulis oleh Wayan Mustika yang berprofesi sebagai dokter umum.


Aku hanyalah tanah tua
Tapi aku masih berkalung cinta
Menanti mata hatimu melirik pulang
Ke rumah tua

Bukan hanya karena upacara
Bukan hanya demi doa
Bukan hanya karena takut bhisama
Tapi karena aku adalah tanah tua
Tempat para raja pernah dipuja
Dan leluruh tua duduk bicara

Pulanglah anak-anakku
Pulang

Buku Antologi Puisi Klungkung. Foto Ahmad Muzakky.

Buku Antologi Puisi Klungkung. Foto Ahmad Muzakky.

Di Bali, acara seperti ini bukan yang pertama kali. Sebelumnya telah terbit dua buku antologi puisi yang berbicara tentang Denpasar dan Buleleng sebagai wilayah eksplorasi puitik.
“Meskipun demikian sambutan yang datang dari penyair cukup banyak,” ujar Gede Artawan selaku tim kurator puisi.

Ada 450-an puisi dari 240-an peserta dari berbagai daerah di Indonesia yang telah diterima oleh kurator. Bahkan ada yang mengirim dari Malasyia, Thailand, Hongkong, dan Singapura.
Tim kurator yang terdiri dari Gede Artawan, Dewa Putu Sahadewa, Wayan Jengki Sunarta, kemudian menentukan seratus puisi yang lolos seleksi.

Puisi-puisi yang dimuat adalam antologi tersebut berbicara tentang bebagai macam hal berkaitan dengan Klungkung. Mulai dari peristiwa puputan, keelokan alam Nusa Penida, wayang kamasan, hingga petani garam.

Tak hanya itu, beberapa puisi juga menganduk kritik. Misalnya, salah satu puisi yang berjudul “Kung-Klungkung” yang ditulis Achmad Fathoni, mahasiswa Universitas Negeri Malang.


Kung,
kapan daun-daun akan jatuh lagi di tanahmu
Sudah sejak berabad-abad lalu
Tak ada lagi daun kering jatuh di tanahmu itu

Sudahkah kau periksa kembali jalanan lawas itu?
Apa aspalnya masih bolong?
Atau sudah diganti dengan paving merah
seperti yang sudah ada di jalan lain?

Authors

Mahasiswa Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Pendidikan Ganesha Singaraja.

Catering Bali

Related posts

*

Top