Diskusi Buku Melacak Jejak Hitler di Indonesia

Peluncuran buku Melacak Jejak Hitler di Indonesia.

Benarkah Hitler dikubur di Surabaya? 

Buku Jejak Hitler di Indonesia berusaha menuliskan sejarah Indonesia dan Jerman. Dia juga mengungkapkan bukti-bukti betapa tokoh di lingkaran dalam Hitler begitu antusias dan memberikan perhatian khusus pada potensi Kepulauan Nusantara.

Sang penulisnya, Horst Henry Geerken, hadir dalam diskusi buku setebal 402 halaman tersebut Jumat dua hari lalu di Museum Agung Rai Museum of Art (ARMA), Ubud. Hadir pula dr I Nyoman Sutarsa MPH, kandidat doktor di Australia sebagai penimbang buku.

Agenda terselenggara berkat kerja sama Penerbit Buku Kompas dengan ARMA Museum, didukung Agung Rai dan I Gusti Agung Ngurah Harta serta Bentara Budaya Bali.

Geerken mengungkapkan saat perang Dunia II, Jepang bekerja sama dengan Jerman untuk mencegah rekolonialisasi pemerintah Belanda terhadap Indonesia. Salah satu peran Jerman adalah memasok senjata dan perlengkapan untuk pasukan Pembela Tanah Air (PETA).

Dalam diskusi, Patricius Cahanar, Manajer Eksekutif Penerbit Buku Kompas menyerahkan secara simbolis buku itu kepada Horst Geerken. Agung Rai selaku pendiri Museum ARMA juga memberikan pengantar dan mengapresiasi buku yang telah diterbitkan dalam tiga bahasa ini.

Buku ini sebelumnya telah diluncurkan di Toko Buku Gramedia Level21 Mall, Denpasar dan didialogkan pula Padepokan Sandhi Murti. Dia terbit dalam bahasa Jerman (Hitlers Griff nach Asien), Inggris (Hitler’s Asian Adventure) dan Indonesia (Jejak Hitler di Indonesia).

Versi bahasa Indonesia merupakan rangkuman sebagian dari versi aslinya.

Banyak Interpretasi
Nyoman Sutarsa mengatakan cara bertutur Geerken yang seperti menulis sebuah memoar sangat menarik. Namun, buku ini tidak bisa dipenuhnya dibaca sebagai buku sejarah sebab di dalamnya banyak mengandung interpretasi pengarangnya.

“Tulisan ini bolehlah menjadi pelengkap pemahaman kita tentang sejarah Indonesia, namun bukan alternatif dalam membaca sejarah Indonesia,” kata Sutarsa.

Menurut Sutarsa Geerken menyajikan banyak informasi sejarah objektif karena masih banyak bukti-bukti otentiknya yang bisa kita akses hingga kini. Tetapi di sisi lain, dalam analisisnya ia juga menghadirkan sejarah yang subjektif lewat uraian cerita dan narasinya ketika merangkai peristiwa-peristiwa sejarah secara koheren.

“Sebagai karya interpretatif, pembaca juga harus menyadari bahwa buku ini tidak lepas dari sisi politis penulisnya. Maka pembaca harus pandai dalam memilahnya,” ujarnya.

“Akan lebih baik jika buku ini disandingkan dengan tulisan ataupun film dengan latar belakang serupa,” lanjut dosen Fakultas Kedokteran Universitas Udayana yang aktif sebagai pembicara di berbagai forum nasional dan internasional ini.

Menurut Sutarsa pembaca dituntut untuk lebih kritis dan jernih dalam menimbang setiap fakta dan informasi dalam buku ini.

Di sisi lain, Jean Couteau, budayawan asal Prancis yang lama bermukim di Bali, turut memberikan pandangan dalam dialog. Menurutnya, peran Jerman dalam perjuangan Indonesia tidaklah sebagai negara, melainkan individu-individu yang tergerak untuk mendukung secara pribadi.

Diskusi membahas pula rumor bahwa Hitler mengakhiri hidupnya di Indonesia dan dimakamkan di Surabaya. Pembuktian rumor ini, menurut Geerken, memerlukan kajian lebih mendalam dan fakta-fakta lebih teruji. Penting untuk melakukan uji DNA sebagai pembuktian kesahihan bukti sejarah terkait ada kuburan Hitler di Surabaya.

Riset Mendalam
Horst Geerken menulis buku ini melalui riset mendalam baik di Indonesia maupun di Jerman selama 40 tahun. Ia memiliki sumber daya sangat kaya. Maka tak heran bila dia mampu melakukan pemaparan amat detil atas fenomena, peristiwa, tempat, termasuk siapa-siapa yang terlibat.

Di dalam buku ini terangkum fakta-fakta menarik yang belum pernah diungkap sebelumnya, seperti Kedekatan Hitler dengan Walther Hewel yang memperkenalkannya pada Indonesia; Kisah Emil Helfferich dengan perkebunannya di Jawa dan Sumatera; Pianis kesayangan Hitler yang berasal dari Indonesia; Hubungan dagang antara Nazi Jerman dengan Hindia Belanda; Sekolah Jerman di Jawa; Makam tentara Jerman di Jawa; Tokoh-tokoh Jerman yang terlibat dalam pembangunan Indonesia pasca kemerdekaan, dan lain-lain.

Horst Henry Geerken lahir tahun 1933. Ia meraih gelar insinyur teknik di Jerman dan AS. Ia bekerja di perusahaan telekomunikasi Jerman yang menempatkannya di Indonesia sebagai direktur kantor perwakilannya sejak 1963 hingga 1981.

Buku pertamanya tentang pengalamannya di Indonesia bekerja di penghujung pemerintahan Soekarno, masa-masa peralihan kekuasaan ke Soeharto, dan masa-masa awal pemerintahan Orde Baru telah diterbitkan dengan judul A Magic Gecko: Kesaksian Seorang Jerman di Indonesia 1963-1981. [b]

Menerima semua informasi tentang Bali. Teks, foto, video, atau apa saja yang bisa dibagi kepada warga. Untuk berkirim informasi silakan email ke kabar@balebengong.net

Catering Bali

Related posts

*

Top