UWRF 2016: Pesan Damai dari Ubud untuk Dunia

img20161026155027

Sejumlah penulis terkemuka hadir dalam jumpa pers UWRF 2016 di Ubud 26 Oktober 2016 lalu. Foto Diah Dharmapatni.

Ubud Writers and Readers Festival ke-13 dimulai. 

Salah satu festival sastra paling dinanti di Asia Tenggara, Ubud Writers and Readers Festival (UWRF) siap menerima para penikmat sastra dan juga seni. Festival ini digelar selama lima hari pada 26 hingga 30 Oktober 2016 di Ubud.

Tahun lalu boleh jadi tahun yang sulit bagi UWRF ketika harus membatalkan beberapa panel diskusi bertema isu kekerasan politik. Janet Deneefe, Pendiri dan Direktur UWRF menganggap hal itu menjadi tantangan tersendiri.

“Setelah melewati tantangan yang luar biasa tahun lalu, kami bangga dapat hadir di tahun ke-13 dengan tema ‘Tat Tvam Asi’, jika diterjemahkan dalam Bahasa Inggris ‘I am you, you are me’,” ungkapnya saat jumpa pers UWRF 2016 di Indus Restaurant 26 Oktober lalu.

Ketut Suardana, Pendiri Yayasan Mudra Swari Saraswati, menambahkan pemilihan tema ‘Tat Tvam Asi’ sesuai dengan isu konflik yang kerap terjadi di seluruh dunia. UWRF sebagai ajang berkumpulnya para sastrawan, pemikir dan seniman diharapkan mampu membawa pesan untuk dunia.

“Dari Ubud, sesungguhnya kita adalah satu. Tat Tvam Asi menyadarkan kita akan pemahaman budaya untuk kedamaian dunia,” jelas Ketut Suardana.

UWRF 2016 menghadirkan sekitar 170 penulis, jurnalis, pemikir, seniman, sineas dan pegiat sosial. Beberapa di antaranya adalah 16 penulis muda yang terpilih untuk menerbitkan karyanya dalam Antologi UWRF 2016. Mereka akan bersanding dengan para penulis nasional dan internasional dalam rangkaian UWRF2016.

Seno Gumira Ajidarma, sastrawan dan jurnalis senior Indonesia, turut menjadi salah satu kurator buku Antologi UWRF tahun ini. Seno menilai pemuda Indonesia masa kini memiliki kesempatan besar untuk berkreasi tanpa batas. Meskipun tak ingin mengulik kualitas, setidaknya karya generasi muda Indonesia berkembang pesat. UWRF telah banyak berkontribusi dalam proses ini.

“Mereka (penulis muda – red) benar-benar membuat saya bangga, sekaligus iri. Saat seusia mereka, saya tidak dapat berkarya sebebas mereka. Karya mereka adalah hasil dari kemerdekaan berpikir. Tentu, mereka juga memiliki latar belakang perjuangannya masing-masing,” tutur Seno.

Seno tidak bermaksud untuk membandingkan baik buruknya karya sastra dulu dan sekarang. Menurutnya, hal itu tetap akan menjadi perdebatan karena memang tidak ada ukuran baik dan buruk. Tapi, yang terpenting karya sastra saat ini semakin dibaca dan semakin eksis.

Penulis Novel ‘Saksi Mata’ ini telah mengikuti UWRF sejak tahun pertama yang hanya diisi beberapa kursi. Kini, UWRF telah menjadi ruang bagi ratusan penulis merayakan ide setiap tahunnya. Menariknya, UWRF menjadi festival sastra yang mampu berdampingan dengan pariwisata, sebab sastra adalah hiburan.

UWRF telah dibuka dengan Gala Opening di The Blanco Renaissance Museum pada 26 Oktober 2016. Keesokan harinya, rangkaian panel diskusi diawali dengan Festival Welcome oleh Janet Deneefe, serta Keynote Speaker oleh Seno Gumira Ajidarma dan Anastasia Lin.

Program utama UWRF 2016 berpusat di Jalan Raya Sangging dan terbagi dalam tiga lokasi, yaitu Neka Museum, Indus Restaurant dan Taman Baca. Selain program utama, ada ratusan program menarik lainnya berupa peluncuran buku, pemutaran film, program anak dan pemuda, pameran seni, pertunjukan musik, lokakarya sastra dan budaya, hingga kuliner.

Daftar program selengkapnya dapat disimak pada situs UWRF 2016. Beberapa program mengalami perubahan jadwal, lihat di sini. [b]

Catering Bali

Related posts

*

Top