Tahun Kedua Kemah Denpasar Film Festival

Peserta Kemah Pelatihan Produksi Film Dokumenter Bersama Narasumber, Rio Helmi. Foto: Dokumentasi DFF

Industri film di Denpasar mulai menggeliat.

Pemerintah Kota (Pemkot) Denpasar terus mendorong tumbuhnya industri kreatif yang kompeten. Berbagai program dan kegiatan berkelanjutan pun terus digalakkan, termasuk film dokumenter ataupun film pendek.

Untuk meningkatkan pemahaman dan pengetahuan tentang perfilman, Dinas Kebudayaan Kota Denpasar menggandeng Yayasan Bali Gumanti menggelar kemah film dokumenter. Kemah diadakan pada 7-11 Maret di seputaran Danau Buyan, Bedugul, Tabanan.

Denpasar Film Festival adalah ajang film dokumenter yang diselenggarakan sejak 2010. Selain lomba, festival ini menggelar pelatihan, pemutaran film, pendampingan produksi,  pameran, diskusi, lomba, dan malam penganugerahan.

Sebagaimana tahun lalu, rangkaian program Denpasar Film Festival tahun ini pun diawali dengan Kemah Pelatihan Produksi Film Dokumenter. Sebelumnya, pelatihan biasa dilakukan di seputaran kota Denpasar dan terfokus dalam ruangan. Peserta tak merasakan pengalaman menginap, berinteraksi lebih lama dengan peserta lain dan panitia serta mempelajari materi lebih mendalam bersama para nara sumber.

Instruktur utama pada kemah pelatihan produksi film dokumenter tahun ini adalah Panji Wibowo. Sutradara film dokumenter ini juga sehari-hari berprofesi sebagai dosen di Fakultas Film dan Televisi (FFTV) Institut Kesenian Jakarta (IKJ).

Panji telah menerbitkan modul pelatihan produksi film yang terhitung sangat minim di Indonesia. Paparan Panji akan diperkuat oleh instruktur lain yang merupakan praktisi-praktisi yang mumpuni seperti Rio Helmi (Fotografer Senior), I Wayan Juniartha (Juri DFF, Jurnalis, Ketua Program Ubud Writers and Readers Festival, Editor The Jakarta Post), Anton Muhajir (Jurnalis, Pengelola Sloka Institute dan Editor BaleBengong.net), Totok Parwatha (Fotografer Senior) dan Olin Monteiro (Aktivis Perempuan, Produser Film Dokumenter dan Koordinator Peace Woman Across The Globe Indonesia).

Peserta pelatihan adalah pelajar SMP dan SMA di Kota Denpasar yang dipilih melalui seleksi. Ada sepuluh kelompok yang terdiri dari satu kelompok siswa SMP, empat kelompok siswa SMA dan lima kelompok siswa SMA. Mereka merupakan kelompok yang berhasil lolos dari 27 kelompok peserta seleksi.

“Tiap kelompok terdiri dari sutradara, penulis cerita, kameramen dan editor,” ungkap Budi selaku Ketua Panitia Kemah Pelatihan Produksi Film Dokumenter ini.

Pada pelatihan ini kita juga mengundang peserta pemantau dari Jaringan Festival Denpasar Film Festival yakni dari Malang Film Festival dan Solo Documentary Film Festival. Sedangkan Panitia terdiri dari Komunitas film, Mahasiswa Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar jurusan Fotografi, Film dan Televisi. Mahasiswa magang dari ISI Surakarta jurusan Fotografi, ISI Yogyakarta jurusan Film dan Televisi, dan juga Mahasiswa Universitas Pasundan jurusan Film dan Televisi.

Dalam perkemahan, selain teori peserta juga dituntun untuk melakukan praktik lapangan tahap demi tahap. Pada akhir pelatihan semua kelompok peserta diwajibkan menyerahkan karya dokumenter berdurasi dua hingga empat menit yang sudah dikerjakan selama pelatihan.

Direktur Denpasar Film Festival, Agung Bhawantara mengatakan dalam kemah pelatihan film dokumenter yang telah memasuki tahun kedua penyelenggaraan  ini para peserta yang terdiri dari siswa SMP, SMA/SMK dan komunitas film Sekota Denpasar akan dilatih tentang tata cara produksi film dokumenter dan pembuatan foto esai.

Dalam prosesnya nanti para peserta terlebih dulu akan diberikan pelatihan dan konsepsi mengenai film dokumenter selama lima hari. Setelahnya para peserta akan mulai masuk proses berkarya.

“Hasil karya terpilih nantinya akan diikutsertakan ke dalam festival-festival film baik skala regional, nasional maupun internasional,” ujar Agung

Walikota Denpasar IB Rai Dharmawijaya Mantra pada sambutan yang dibacakan Kadis Kebudayaan di acara pelepasan peserta kemah pelatihan menyatakan, melalui penyelenggaraan kemah pelatihan film dokumenter ini diharapkan mampu membangun kualitas sumber daya manusia terutama di bidang perfilman di Kota Denpasar.

Rai Mantra juga mengharapkan setelah mengikuti kemah film dokumenter ini para peserta diarahkan jangan hanya sekadar bisa membuat karya film dokumenter, melainkan kegiatan pembuatan film tersebut dapat dijadikan mata pencaharian.

Selain itu, hal ini bisa menghasilkan outcome bermanfaat bagi masyarakat seperti pemanfaatan film dokumenter sebagai media promosi pelayanan program pemerintah. Agar nantinya sosialisasi program pemerintah menarik bagi masyarakat dan pesan yang disampaikan mudah dicerna oleh masyarakat.

Kreativitas dalam berkarya dapat dijadikan landasan moral, namun yang harus dipikirkan juga bagaimana mengarahkan suatu karya film sebagai mata pencaharian.

Plt Kadis Kebudayaan Kota Denpasar Ni Nyoman Sujati mengatakan, kegiatan ini sejalan dengan program Pemkot Denpasar membangun industri kreatif yang kuat. Di mana salah satunya diwujudkan dengan pengembangan sektor perfilman maupun animasi yang akhir- akhir ini industrinya semakin bergairah.

Pelatihan di bidang perfilman ini juga secara tidak langsung menguntungkan Pemkot Denpasar, di mana pemahaman masyarakat mengenai film dokumenter nantinya bisa saja membantu pemerintah dalam hal pengarsipan warisan budaya di Kota Denpasar yang dapat dijadikan database bagi pemerintah Kota Denpasar. [b]

Authors
Catering Bali

Related posts

*

Top