Malu Dong Festival, Spuit Besar Penyebar Formula

Keluarga berkunjung ke Malu Dong Festival 2017 untuk menikmati dan berkampanye.

Jika bumi adalah ibu, kita manusia memperkosa ibunya.
Setiap hari, setiap jam, setiap detik.

Bebal – Sisir Tanah

Apa yang kawan-kawan lakukan dalam memperingati Hari Bumi? Apa yang kawan-kawan lakukan untuk menjaga lingkungan sekitar?

Dua pertanyaan di atas amat sederhana. Namun, kadang bingung menjawabnya.

Atau kawan-kawan lupa Hari Bumi karena euforianya tidak seperti Hari Raya Galungan dan Kuningan. Juga lupa lingkungan perlu diperhatikan. Tidak hanya diri sendiri, pacar, atau selingkuhan.. Eh!

Kita sama tahu, bumi makin rungkuh. Tiap hari kondisinya makin memprihatinkan. Setiap jam gairahnya memudar. Setiap menit denyutnya memelan. Setiap detik termakan oleh merah karat.

Ulah siapa? Manusia, seperti kalimat Mas Daton-Sisir Tanah di atas. Bumi, ibu kita ini perlu bantuan anak-anaknya.

Informasi ini sering didengungkan di mana-mana. Lewat seminar, radio, iklan media masa, media sosial. Toh nyatanya urusan perut lebih genting dibanding hal kontekstual lainnya. Maka dari itu Komunitas Malu Dong pimpinan Om Bemo berupaya berkampanye untuk menjaga lingkungan, dengan cara paling sederhana, jangan buang sampah sembarangan.

Kampanye ini berevolusi menjadi gerakan bersama. Kemudian lahirlah Malu Dong Festival 2017 yang berlangsung di Lapangan Puputan I Gusti Ngurah Made Agung, pada 22-23 April 2017.

Bendera warna-warni bertulis Malu Dong Buang Sampah Sembarangan cukup terkenal di Denpasar. Kita sering menjumpai di beberapa titik di Kota Denpasar, di banjar-banjar, di tempat pembuangan sampah, dan tempat strategis lainnya.

Komunitas ini juga sering ikut serta dalam festival. Misalnya di PICA Fest 2017. Malu Dong tidak hanya hadir untuk memperkenalkan visi misi komunitasnya tapi melakukan aksi nyata. Mereka memungut puntung rokok dan sampah plastik yang dibuang sembarang oleh pengunjung.

Mereka hadir untuk mengusik kebiasaan orang-orang yang sulit dihilangkan, buang sampah sekenanya. Tidak hanya itu, komunitas ini juga memiliki kegiatan reguler setiap hari minggu sore, yakni bersih-bersih pantai Mertasari, Sanur.

Tak lupa, mereka mengunggahnya di media sosial untuk menggugah rasa kepedulian masyarakat luas.

Kehadiran Malu Dong Festival 2017 ini menyadarkan bahwa rumah kita (bumi) sedang tidak baik-baik saja, atapnya bocor, tanahnya tidak stabil, jendelanya kusam, temboknya mulai retak dan penghuni di dalamnya perlu diperingati.

Anak-anak menggambar bertema lingkungan di Malu Dong Festival 2017.

Formula Malu Dong

Coba kita berandai Malu Dong Buang Sampah Sembarang adalah formula yang harus disuntik kepada masyarakat agar sembuh dari kebiasaan buruknya. Sementara Malu Dong Festival 2017 adalah alat suntiknya atau spuit untuk menyebarkan formula agar tepat sasaran. Maka alatnya harus super besar, super dasyat, super mutakhir, ini untuk mengobati satu kota, bahkan satu pulau.

Jadi tidak salah Malu Dong Festival dirancang bermegah-megahan bahkan dengungnya terasa sejak beberapa bulan sebelumnya. Penyebarannya harus dipikirkan mendetail perlu perhitungan tepat.

Pilihan tempat di pusat kota serta pelaksanaan festival di hari Sabtu dan Minggu menjadi tonggak tajam dalam penyeberan formula ini. Panitia sadar betul Lapangan Puputan adalah pusat keramaian di akhir pekan. Pengunjung tidak hanya sepasang anak muda yang mencari tempat pacaran murah meriah, juga komunitas hobi. Dan, paling penting adalah pengunjung keluarga.

Formula ini harus disuntik dari lingkungan terkecil, yakni keluarga. Banyak pengunjung yang membawa sanak keluarga, serta anak-anaknya ikut serta. Tidak hanya menonton band yang disajikan panitia, tapi juga berpartisipasi seperti melukis di atas kain putih yang disediakan.

Formula ini tentu memerlukan racikan, kadar komponen yang ciamik. Racikan ini diwakilkan oleh komunitas, penggiat seni, sekaa, siswa-siswi yang ikut berpartisipasi dalam Malu Dong Festival 2017.

Racikan ini pun mempersembahkan sajian hidangan yang enak “disantap”. Misalnya paduan seni mural dari komunitas mural Denpasar yang menghiasi sisi samping Main Stage dan Youth Corner Garden Stage. Seluruh mural menghadirkan gambar kritik dan kampanye peduli lingkungan.

Satu diantaranya racikan Pena Hitam Bali, yang menceritakan buang sampah sembarangan saja tidak cukup dewasa ini. Masyarakat harus kritis dan peduli juga terhadap kebijakan-kebijkan pemerintah mengenai lingkungan, khususnya di Bali.

Dalam mural itu tertuliskan kalimat “Tidak cukup jika hanya memungut sampah, karena industri rakus masih merajalela merusak bumi-rumah kita.” Ini menegaskan bahwa manusia Bali sudah semestinya melek akan hal yang terjadi sekitarnya. Jangan terlena atau malah apatis hanya sebagai penonton yang tertib.

“Kami ingin pengunjung kritis bahwa peduli lingkungan tidak hanya cukup, tidak membuang sampah sembarangan, tapi perlu kesadaran akan kebijakan pemerintah,” ujar Gilang Pratama anggota Pena Hitam Bali.

Terdapat pula pameran lampion dan seni instalasi di arena terbuka. Jejeran lampion ini menarik antusias banyak pengunjung, untuk berswafoto atau mengabadikan momen bersama keluarga mereka. Lampion-lampion itumerupakan buah kerja keras sekaa teruna teruni serta komunitas anak muda di Denpasar.

Lampion-pun bervariasi bentuknya tidak hanya lampion konvensional seperti biasa. Ada berbentuk bumi berputar, bentuk monyet, bentuk spongebob.

Satu lampion cukup nyelekit bagi saya adalah lampion berbentuk penyu yang isi perutnya penuh sampah. Lampion ini hasil karya S.T.T Yowana Dharma berjudul Save Our Turtle. Karya ini terinspirasi dari sekelompok ilmuan di Costa Rica yang menemukan seekor penyu dengan sedotan plastik tersangkut di hidungnya.

Penyu juga memiliki arti tersendiri dalam ajaran agama Hindu. Seekor penyu raksasa dipercaya sebagai penjelmaan Dewa Wisnu. Tugasnya menahan Gunung Mandara dengan tempurungnya agar tidak tenggelam.

Jika pernah melihat videonya di Internet, Anda akan merasakan keprihatinan yang sangat mendalam. Suasana itu langsung terasa saat pertama kali melihat lampion tersebut.

Sederetan band asal Bali pun turut berdendang memeriahkan festival. Di sela bermusik mereka berkampanye tentang sampah untuk menjaga bumi. Band itu di antaranya Dromme, Lily Of the Valley, Zat Kimia, Jangar, Sucidal Sinatra, Rollfast, Mort, Lorong Natterjack, Parau, Trojan, SOB, Navicula dan sebagainya.

Lampion berbentuk kura-kura makan plastik di Malu Dong Festival 2017.

Ranger Unyu-unyu  

Satu hal berbeda, Malu Dong Festival membentuk tim Ranger Malu Dong. Ranger bertugas mengimbau para perokok agar tidak melakukan ritualnya di arena hijau. Sebab banyak anak-anak kecil ikut serta di dalamnya.

Tim ranger menggunakan rompi berwarna orange stabilo ini berkeluyuran ke sana kemari, demi menjaga kenyamanan pengunjung. Bahkan ada yang tak sungkan untuk mematikan rokok dengan air. Menarik sekali. Festival ini ramah lingkungan dan anak-anak.

Kendati demikian, panitia tidak saklek kok. Panitia telah menyiapkan titik khusus bagi kaum masinis ini untuk menyalakan corong asap mereka.

“Tim rangernya muda-muda, unyu-unyu. Kawan saya banyak yang ikut jadi volunteer. Bagus kan, jadi ramah sama anak-anak yang pengen ikut nonton,” ujar Reni Layon salah seorang pengunjung yang saat ini sedang menempuh studi di Denpasar.

Lebih jauh ia berharap metode dan pendekatan seperti ini dapat ditiru oleh festival-festival lain di Bali. Entah itu pengolahan sampah, bebas asap rokok, ataupun no plastic bag. Dengan begitu festival tidak sekadar euforia namun tersisip pesan moral di dalamnya.

Saya jadi menduga-duga, di Malu Dong Festival pengunjung terkesan dipaksa. Dipaksa menonton, dipaksa melihat, dipaksa membaca, dipaksa ikut berpartisipasi, dipaksa ikut mendengar yang semuanya berkaitan tentang kampanye peduli lingkungan.

Paksaan itu penting lo untuk mengubah pola. Dalam hal ini mental manusia Indonesia khususnya manusia Bali, agar peduli sekitarnya. Yah paling banter setelah melakukan upacara adat yang menghasilkan limpahan sampah itu, manusia Bali tahu membijakkan sampahnya, bukan seutuhnya menyerahkan kepada pasukan hijau pemerintah.

Tapi sayang, seribu sayang. Gerakan Bali Tolak Reklamasi (BTR) tak tampak ikut memeriahkan festival ini. Padahal saya membayangkan BTR akan mengkapling satu tenan, untuk menjelaskan segala visi misi gerakannya.

Kendati banyak aksi turun kejalan yang telah berlangsung selama ini, namum apa salahnya jika membuat stan di acara festival. Apa lagi jika ada alat-alat rekayasanya, pasti sangat menarik. Menjaga Bali, ya bersama, ngiring nyarengin. [b]

Authors

Pedagang nasi ayam betutu yang gemar mengarang indah, kadang bisa juga alih profesi jadi tukang teater.

Catering Bali

Related posts

*

Top