Pesan Sebelum Anda Bekerja di Kapal Pesiar

Banyak hal harus dipersiapkan sebelum memutuskan bekerja di kapal pesiar. Foto Internet.

Tiga belas pesan untuk Anda yang ingin bekerja di kapal pesiar.

Sebelum berangkat dan mulai bekerja di kapal pesiar, Anda akan diharuskan mengikuti berbagai macam pelatihan untuk membantu Anda mempersiapkan diri selama berlayar.

Pertanyaan saya, adakah yang mempersiapkan Anda mengenai kenyataan di lapangan saat Anda memutuskan untuk berhenti total bekerja di luar negeri dan ingin meniti karier di pulau Anda sendiri?

Saya mendapatkan kesempatan untuk berdiskusi baik dengan pekerja maupun bagian human resource development (HRD) hotel dan pemilik perusahaan terutama hotel, vila, dan restoran mengenai hal ini. Saya berharap rangkuman jawaban-jawaban ini bisa menjadi masukan bagi anak-anak muda Bali yang hendak berangkat berlayar. Semoga mereka bisa bersikap realistis dan tidak mengulangi kesalahan sama yang dilakukan para pendahulu mereka.

Pertama, sebelum berangkat, sebaiknya Anda memikirkan matang-matang rencana Anda selama 5 sampai 10 tahun ke depan. Bukan hanya fokus bagaimana mendapatkan uang sebanyak-banyaknya selama berlayar.

Banyak kasus, terutama bagi anak muda dari keluarga ekonomi menengah ke bawah, yang bersikap impulsif dan gegabah saat mendapatkan pendapatan besar. Mereka menghambur-hamburkan uang untuk minum alkohol atau belanja barang-barang mewah. Hal yang tidak selalu bisa mereka beli dengan gaji yang mereka dapatkan di Bali.

Saya juga melihat beberapa kasus di mana ada anak-anak muda yang melakukan hal ini karena pamer. Mereka ingin dianggap sejajar oleh anggota keluarga mereka yang lebih mampu, yang menunjukkan sikap meremehkan dan merendahkan saat ekonomi mereka masih di bawah.

Menikmati hidup dan menggunakan penghasilan dari kerja keras itu hak Anda. Begitu juga dengan memberikan pelajaran bagi keluarga Anda yang bersikap arogan dan merendahkan saat Anda susah. Namun, kemampuan untuk mengontrol diri dan keuangan terutama setelah Anda membaca penjelasan saya di bawah ini, juga akan sangat penting bagi Anda.

Kedua, ada beberapa kasus di mana pekerja lebih mengutamakan jumlah penghasilan lebih tinggi daripada meniti karier di kapal pesiar karena posisi lebih tinggi terkadang penghasilannya lebih rendah.

Nah, salah satu konsekuensinya, jika Anda ingin meniti karier di Bali, Anda tidak selalu akan diterima di posisi manajemen karena Anda memang tidak memiliki pengetahuan dan kemampuan untuk posisi ini.

Banyak pekerja yang berpikir pengalaman di luar negeri yang memberikan gengsi lebih tinggi akan memudahkan mereka untuk mendapatkan posisi selevel supervisor. Nyatanya, beberapa pihak manajemen hotel mengaku kecewa karena performa kerja eks pekerja kapal yang tidak memuaskan saat diberikan posisi ini.

Kesimpulannya, jika Anda memang ingin meniti karier lagi di dunia pariwisata saat kembali ke Bali, bijaklah memilih karier di kapal pesiar. Jangan hanya memprioritaskan pendapatan atau berkarier di satu posisi terlalu lama. Sebab, jika berada hanya di satu posisi selama belasan tahun, Anda akan terlihat seperti seseorang yang tidak siap tantangan. Anda terlalu nyaman dalam comfort zone.

Jika Anda memang ingin meniti karier lagi di dunia pariwisata saat kembali ke Bali, bijaklah memilih karier di kapal pesiar.

Ketiga, mohon juga bersikap bijak dengan usia Anda. Saya sudah pernah membantu eks pekerja kapal pesiar yang berusia 39 tahun. Dia mengincar posisi butler atau supervisor housekeeping. Selama satu tahun diia sudah melamar ke mana-mana. Namun, sampai saat ini dia belum mendapatkan pekerjaan.

Saya ikut frustrasi dan prihatin melihatnya. Bahasa Inggrisnya bagus, memiliki karakter cocok untuk posisi butler, dan resumenya pun sudah di-upgrade. Namun, dia bahkan menawarkan agar ijazahnya ditahan sebagai jaminan bahwa ia tidak akan menggunakan pekerjaan ini sebagai batu loncatan atau pekerjaan sementara sebelum ia berlayar lagi. Dia bahkan harus menunda pernikahannya karena belum memiliki pendapatan konsisten tiap bulan.

Ada yang bahkan hampir bunuh diri karena beberapa alasan sama.

Jika tujuan akhir Anda adalah membuka bisnis sendiri, Anda tidak perlu mempertimbangkan usia. Namun, jika Anda masih ingin berkarier di dunia pariwisata di Bali dengan posisi manajemen, tetapi tanpa bekal ilmu pengetahuan dan pengalaman cukup apalagi dengan usia yang dikategorikan matang dan dengan tuntutan gaji di atas rata-rata, maka Anda harus bisa menerima kenyataan pahit bahwa Anda tidak akan menjadi prioritas utama para pengusaha pariwisata.

Keempat, saya bisa membayangkan banyak ilmu pengetahuan yang Anda dapatkan selama bekerja di kapal. Mental ataupun kekuatan fisik Anda pun lebih kuat saat Anda bekerja jauh dari rumah. Pada saat yang sama, dari diskusi saya dengan HRD atau pemilik perusahaan, banyak contoh mantan pekerja kapal pesiar pun jadi bersikap arogan, sok pintar dan tidak mau diajari. Padahal, hasil kerjanya juga tidak sesuai standar penyedia lowongan.

Di sisi lain, menurut pekerja, banyak pemilik usaha atau pihak manajemen bersikap seolah tidak mau mengakui bahwa dalam beberapa hal mantan pekerja kapal pesiar memiliki beberapa keunggulan dibandingkan pekerja yang tidak pernah bekerja di luar negeri hanya karena mereka orang Indonesia.

Hal ini juga terjadi pada teman saya, pemilik tabloid iklan. Setelah mengenyam pendidikan di luar negeri, dia mendapatkan upah setara dengan pekerja tamatan universitas lokal saat ia mulai melamar kerja di sebuah perusahaan manajemen vila hanya karena ia pekerja lokal. Saya bisa membayangkan bagaimana realita ini membuat mereka merasa kecewa dan terluka.

Sekali lagi saya bisa merasakan frustrasi kedua belah pihak mengenai masalah ini. Saya hanya bisa mengingatkan para pekerja untuk memperhatikan cara dan nada bicara Anda. Anda dilihat sebagai pihak yang butuh pekerjaan dan banyak orang lain yang akan dengan senang hati menggantikan posisi Anda. Mereka mau bersikap rendah hati untuk diajari dan sudah bersyukur dibayar dengan upah minimum kabupaten (UMK).

Kelima, saya banyak mendengar dan diceritakan langsung tentang perselingkuhan oleh para pekerja kapal maupun pasangan yang ditinggalkan. Saya tidak menyarankan perselingkuhan akan tetapi terkadang hal ini terjadi.

Kebutuhan mendapatkan sentuhan fisik, frustrasi secara seksual dan mendapatkan pelepasan secara seksual setelah Anda susah payah bekerja adalah hal wajar dan sangat manusiawi. Yang saya ingatkan adalah untuk selalu ingat menggunakan pengaman walaupun melakukan hal ini sering menghambat kepuasan seks Anda.

Mohon diingat bahwa penyakit menular seksual bukan hanya HIV dan AIDS. Ada juga herpes, klamedia, dan khususnya kanker serviks yang hanya diderita wanita. Untuk para lelaki, jangan terlalu gegabah menganggap diri Anda bersih. Sebab, Anda tidak pernah tahu kuman-kuman yang Anda bawa dari pasangan berselingkuh yang Anda bawa pulang. Akhirnya membuat istri Anda menderita penyakit fatal walaupun Anda sendiri tidak mengalami penyakit apapun.

Persentase angka penyakit menular seksual di Bali sudah makin tinggi terutama di daerah Singaraja dan Badung hanya karena keengganan banyak orang menggunakan pengaman, jadi tolong jangan membawa lebih banyak masalah lagi saat anda pulang ke tanah air.

Keenam, saya pernah dimintai tolong oleh seorang eks pekerja kapal yang istrinya akan melahirkan anak pertama. Ia meminta tolong agar saya mencarikannya pekerjaan sebagai waiter di hotel dan kalau bisa langsung staf. Padahal, kenyataan di lapangan adalah Anda harus memulai sebagai pekerja harian atau daily worker (DW) dulu terutama jika posisi ini memiliki peminat cukup banyak.

Saya mengerti Anda ingin mendapatkan standar gaji hampir setara dengan apa yang Anda dapatkan di kapal, akan tetapi sikap ini sangat tidak realistis.

Jika Anda sudah berani mengambil risiko menaruh diri Anda di posisi yang akan sangat membutuhkan uang, terutama jika anda juga memiliki hutang dalam jumlah besar, maka saya sarankan untuk bersikap fleksibel. Jangan hanya fokus pada prestige sehingga istri dan anak Anda menjadi korban.

Jangan hanya fokus pada prestige sehingga istri dan anak Anda menjadi korban.

Anda harus sadar bahwa persaingan Anda untuk posisi-posisi seperti housekeeper atau F&B sangatlah ketat. Jadi, jika memang di sini skill utama Anda dan Anda tidak tertarik mempelajari skill lain, mohon bersikap kritis dan bijaksana sebelum anda memutuskan berkeluarga yang notabene akan membutuhkan lebih banyak uang.

Jika Anda tetap ngotot berkeluarga, pastikan anda memiliki emergency fund atau dana cadangan untuk minimal setahun. Anda harus disiplin dalam budgeting anda.

Ketujuh, ada beberapa kasus di mana ekspektasi pasangan atau anak-anak Anda yang sudah terbiasa dengan pendapatan Anda selama di kapal, terutama yang suka membandingkan hidup mereka dengan anggota keluarga lain atau teman-temannya, yang membuat eks kapal pesiar merasa sangat tertekan walaupun mereka sendiri sudah bisa bersikap realistis.

Ada baiknya Anda mengingatkan keluarga, jauh-jauh hari sebelum Anda pulang, mengenai realita di lapangan. Anda harus mulai disiplin dengan pengeluaran Anda dan tidak bersikap gegabah sejak dari awal Anda bekerja di kapal. Dengan demikian, keluarga pun sudah siap dengan berhemat saat menghadapi situasi-situasi tidak terduga saat anda mulai meniti karier di Bali.

Kedelapan, seorang HRD mengatakan pada saya bahwa salah satu perbedaan bekerja di kapal pesiar dan di hotel atau restoran terutama dengan standar bintang 5 adalah bagaimana pekerja kapal bekerja lebih cepat-cepat atau rushed sementara standar bintang 5 mengharuskan Anda lebih teliti dan lebih pelan.

Banyak hal yang perlu dipersiapkan saat Anda bekerja di perhotelan di Bali sementara dalam beberapa kasus, Anda terbiasa dengan bahan yang sudah setengah jadi selama Anda bekerja di kapal.

Kesembilan, seorang HRD restoran ternama di wilayah Badung juga mengatakan kepada saya bahwa ada beberapa perusahaan yang memang memberlakukan regulasi tidak menerima eks pekerja kapal pesiar. Saya tidak diberi tahu dengan detail hotel atau restoran mana saja yang memiliki aturan ini dan saya cukup kaget mendengarnya.

Walaupun saya mengerti beberapa alasan mereka untuk memprioritaskan pekerja yang sudah berpengalaman bekerja di hotel, vila, ataupun restoran lokal, saya merasa hal ini seharusnya tidak dibenarkan.

Saya pribadi mendukung jika sebuah perusahaan mengutamakan kompetensi dan bukan ras, kewarganegaraan atau agama, tetapi regulasi ini termasuk diskriminatif. Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) seharusnya bisa menuntut dan menekan perusahaan untuk bisa bersikap lebih transparan dengan menunjukkan aturan-aturan mereka.

Saya lebih setuju jika eks kapal pesiar diberikan pelatihan untuk menyesuaikan dengan standar hotel, vila, atau restoran mereka. Saya tidak setuju jika mereka sama sekali tidak diberikan kesempatan untuk bekerja.

Bagi pekerja eks kapal pesiar yang merasa tersisihkan karena regulasi ini dan merasa ini tidak adil, saya menyarankan agar anda melakukan protes dengan cara yang terpelajar dan bukan memanas-manasi.

Kesepuluh, salah seorang HRD restoran ternama juga mengatakan pada saya bahwa Anda akan sulit mendapatkan pekerjaan jika jeda Anda istirahat terlalu lama.

Nah, memang ada beberapa kasus seperti ini. Namun, ada juga yang tidak berhasil mendapatkan pekerjaan walaupun mereka sudah melamar selama setahun. Hal ini tidak bisa dianggap sebagai menganggur atau pemalas.

Saya berharap manajemen atau pemilik perusahaan tidak membuat kesimpulan secara umum. Saya sudah melihat contoh pekerja yang sudah melamar ke mana-mana dan belum diterima.

Kesebelas, almarhum I Ketut Wija, mantan Kepala Disnaker Provinsi Bali mengatakan pada saya bahwa Anda memang pantas digaji lebih tinggi saat bekerja di kapal pesiar. Hal itu karena risiko yang Anda hadapi memang lebih tinggi, kekuatan fisik yang Anda harus berikan juga akan lebih tinggi, Anda jauh dari keluarga, Anda tidak bisa libur sesering di Bali karena upacara agama, dan pendapatan anda setara dengan standar UMK negara Anda bekerja.

Sementara di Bali, dalam banyak kasus, Anda bisa jauh lebih santai sehingga tidak selalu dibenarkan untuk menuntut gaji sejajar dengan di kapal.

Keduabelas, satu hal yang membuat pekerja asing tidak terima jika Anda mendapatkan gaji sejajar dengan mereka adalah Anda tetap mendapatkan harga lokal jika berbelanja, sehingga pengeluaran Anda pun jadi lebih sedikit, sementara mereka tetap mendapatkan harga pendatang asing.

Terakhir, saat Anda memiliki banyak uang setelah bekerja di kapal dan Anda pamer, akan ada banyak orang mau menjadi teman Anda. Namun, saat uang habis dan Anda harus menyesuaikan dengan standar gaji di Bali, jangan kaget jika Anda mulai kehilangan teman, yang bahkan tidak akan mau membantu Anda walaupun saat Anda punya, Anda sudah membantunya.

Jadi berhati-hatilah membawa diri. [b]

Authors
Tags , ,
Catering Bali

Related posts

*

Top