Jangan ke Bunut Bolong Jika..

bunut-bolong-kabut

..kamu calon pengantin dan ke sana bersama calon suami atau istrimu.

Begitulah mitos yang beredar di kalangan warga setempat tentang Bunut Bolong, si pohon raksasa di Desa Manggisari, Kecamatan Pekutatan, Jembrana. Lokasi ini berjarak sekitar 2 jam perjalanan dari Denpasar.

Bunut Bolong sejatinya sebuah pohon raksasa yang bagian bawahnya berlubang sehingga menjadi ruas jalan. Jalan alternatif ini yang menghubungkan Jembrana dan Buleleng, barat dan utara Bali.

bunut-bolong-warung

Warga menyebutnya Bunut Bolong karena berlubang di tengahnya. Lubang ini bisa dilewati mobil. Bunut Bolong adalah pohon Bunut tua yang tengah akar-akarnya berlubang untuk jalan raya dan bisa dilalui kendaraan. Di sebelahnya ada pura yang peringatan piodalannya sama dengan tugu di Bunut Bolong ini.

Karena daya tariknya ini, Bunut Bolong bahkan dimasukkan sebagai salah satu objek wisata oleh Kabupaten Jembrana. Warga setempat juga menjadikannya sebagai salah satu tempat jalan-jalan atau sekadar nongkrong.

bunut-bolong-akar

Objek wisata ini sekitar 11 km dari pasar Desa Pekutatan di jalan raya Denpasar-Gilimanuk Denpasar.

Menuju lokasi Bunut Bolong dari jalan raya provinsi adalah pemandangan hijau penuh pohon kelapa, kemudian pohon kakao dan cengkeh di kawasan perbukitan. Makin menanjak, suhu makin dingin. Kadang terlihat kabut tebal jelang sampai di lokasi pohon Bunut ini.

Seperti banyak hal unik lain, ada kisah atau mitos yang menyertai. Sejumlah warga meyakini jalan di bawah pohon ini pantang dilewati calon pengantin. Jika dilewati, pernikahan dikhawatirkan gagal sebelum acara atau setelahnya.

bunut-bolong-sembahyang

Karena itu, misalnya ada sepasang pengantin, mempelai perempuan tinggal di Jembrana dan laki-laki tinggal di Buleleng, maka saat proses menjemput pengantin perempuan, keduanya tidak mau melewati jalan di bawah pohon Bunut ini.

Pantangan lain, jalan di bawah pohon tidak diperkenankan untuk rombongan kematian seperti mobil membawa jenazah atau prosesinya. Ini barangkali karena pohon ini dibuatkan tugu di kedua sisi jalannya.

Untuk itu, warga setempat membuatkan jalan di samping pohon untuk mereka yang meyakini pantangan-pantangan itu.

“Kalau orang pacaran tidak termasuk mitos itu, hanya calon pengantin,” kata perempuan pemilik warung di samping pohon. Warung ini menjadi spot rehat bagi pengunjung untuk makan atau berteduh karena area ini menjadi obyek wisata Kabupaten Jembrana.

bunut-bolong-pengunjung

Selain minuman dingin dan hangat, warung ini juga menyediakan menu enak yakni lontong tahu dan soto ketupat. Satu mangkuknya Rp 5.000, cukup untuk porsi sarapan.

Ada sekitar tiga warung lain di sini yang cocok buat nyruput minuman hangat di antara kawasan Bunut Bolong yang dingin dan sering kali berkabut. Tapi, sekali lagi ingat, tak usah sama pacar ya kalau ke sini. Kecuali memang niatnya biar putus. [b]

Foto-foto Anton Muhajir.

3 Comments

  1. info menarik karena di bali mitos itu sangat kental di masyarakat, tapi kita balikan kembali ke diri masing-masing mengenai kebenaran hal ini

    salam dari kami,
    ALEXA PHOTO – jasa prewedding di negara/jembrana

  2. wah saya yang bermukim di dekat desa ini belum sempat menulis artikel tentang Bunut Bolong, ternyata tempat ini sudah begitu terkenalnya. salut dan sukses untuk artikel menariknya.

  3. Pingback: Menjelajahi kawasan magis Bali Barat, Pura Malen & Bunut Bolong | Dwipayana Cool's Blog

Komentar Anda